HOME | BERITA | INFO UNTUK ANDA | LIVE STREAMING | LOWONGAN
indosiar dot com
FOKUS | PATROLI | RAGAM | GOSSIP | SINOPSIS | RESPOND ONLINE | INDOSIAR PEDULI | CORPORATE INFO
RAGAM

Sapa

Tedhak Sinten : Tradisi Bayi Turun Tanah



indosiar.com, Cilacap - Dalam budaya Jawa, upacara tedhak sinten adalah ritual yang sama pentingnya dengan selamatan kelahiran, pernikahan atau kematian. Namun tradisi menurunkan bayi untuk menginjakkan kaki ke tanah ini sudah jarang dilakukan sehingga hampir punah. Di Cilacap, Jawa Tengah, seorang warga menghidupkan lagi ritual yang menggambarkan proses seorang anak mulai berjalan tersebut.

Sebelum dimulai acara, sang anak terlebih dahulu didandani dengan pakaian khas Jawa. Lengkap dengan kepala tutup blankon. Jika wanita biasanya dirias dengan pakaian ala pengantin. Selanjutnya sang anak diarak dengan menaiki andong. Sang anak dipindahkan dengan menaiki kuda bersama dengan sang ayah.

Kuda Sumbawa yang dikalungi jajanan anak ini, berjalan menuju lokasi upacara. Sebelum memasuki upacara dilakukan pelepasan 20 burung merpati sebagai simbol kebebasan, serta 70 balon yang menggambarkan kegembiraan anak-anak. Tedhak sinten sendiri merupakan upacara menjejakkan tanah.

Sebelum menjejakkan tanah, sang anak dituntun oleh orangtuanya untuk melangkah diatas cobekan berisi sesaji makanan sejenis dodol dari beras ketan berwarna putih dan merah serta beras kuning. Setelah itu anak dituntun untuk menjejakkan kaki diatas tanah. Sang anak beserta ibunya kemudian dimasukan kedalam kurungan ayam, untuk memilih segala rupa mainan didalam kurungan tersebut.

Konon ini sebagai bentuk perlindungan terhadap segala gangguan kejahatan terhadap diri sang anak. Prosesi selanjutnya sang anak dituntun untuk meniti tangga yang terbuat dari batang tebu dan kemudian dibaringkan diatas ayunan. Kini dimaksudkan agar jalan hidup yang dijalani sang anak adalah jalan hidup yang manis.

Ritual ini memang sudah sangat jarang dilakukan, bahkan orang Jawa sangat sedikit yang menggelar ritual ini. Selain warga, pemerintah diharapkan bisa melakukan upaya pelestarian budaya ini sebagai asset wisata. (Nanang Anna Nur/Dv/Ijs)

 

 

 

Bookmark and Share