
Beginilah kesibukan tukang jahit keliling setiap hari. Menyusuri kampung di Jakarta dengan mengayuh sepeda yang telah dimodifikasi. Pelanggannya pun warga kebanyakan, yang menggunakan jasa tukang jahit keliling karena ongkosnya lebih murah.
Hidup di Jakarta memang sulit. Apalagi kalau keterampilan yang dimiliki pas-pasan. Seperti yang dialami Zainal Abidin, atau Udin ini.Setiap hari, pria berusia 30 tahun asal Pekalongan ini harus keliling kampung mengayuh sepedanya mencari pelanggan.
Dengan modal mesin jahit yang ditaruh di gerobak dan ditempelkan di sepeda, Udin menyusuri gang-gang sempit di kawasan Rawa Simprug, Jakarta Selatan. Dari pekerjaannnya inilah dia menghidupi keluarganya di ibukota.
Sebelumnya Udin bekerja di sebuah perusahaan garmen di kawasan Jakarta Barat. Namun pabriknya bangkrut, dan dia terkena pemutusan hubungan kerja. Menjadi pengangguran membuat Udin harus berpikir mencari nafkah. Jadilah dia tukang jahit keliling.
Bermodalkan mesin jahit yang di beli dengan uang pinjaman keluarganya, Udin merombak sepedanya dan dijadikan satu dengan gerobak yang dipasang mesin jahit.
Gerobak dibuat seramping mungkin sehingga dapat leluasa dibawa menyusuri gang-gang sempit di kawasan pemukiman warga.
Hari beranjak pagi. Udin sudah sibuk menyiapkan peralatannya. Diantaranya gunting, benang dan resleting. Semua peralatan ini dibelinya di kawasan Tanah Abang, Jakarta Pusat.
Di rumah kontrakannya yang hanya memiliki luas empat kali meter persegi ini, Udin setiap harinya juga menerima pesanan jahitan dari para tetangganya.
Rumah yang disewa tiga ratus ribu perbulan ini nyaris tiada sekat, semua kegiatan dilakukan dalam satu ruangan. Mulai dari memasak, tidur hingga menjahit. Namun bagi Udin dan keluarganya, hidup sederhana seperti ini di Jakarta sudah merupakan hal yang biasa.
Untuk mencari jahitan, Udin pun berkeliling kampung. Mengayuh sepeda gerobaknya. Berbagai jasa ditawarkan, mulai dari mengecilkan baju, memotong celana, hingga mengganti resleting.
Kehadiran tukang jahit keliling sangat membantu ibu rumah tangga dari kalangan berpenghasilan pas-pasan. Baju lama dipermak sehingga dapat dipakai lagi. Karena itu, ibu-ibu pelanggan Udin selalu menanti kedatangannya bila ada pakaian yang harus dipermak.
Udin terus menyusuri gang demi gang, dengan gerobak mesin jahitnya. Terik matahari merupakan hal yang biasa bagi Udin.
Senjapun datang, Udinpun kembali ke rumah. Rezeki yang diperoleh hari ini dirasakan cukup untuk menyambung hidup keluarganya esok hari. (Helmi Azahari/Ijs)