HOME | BERITA | INFO UNTUK ANDA | LIVE STREAMING | LOWONGAN
indosiar dot com
FOKUS | PATROLI | RAGAM | GOSSIP | SINOPSIS | RESPOND ONLINE | INDOSIAR PEDULI | CORPORATE INFO
RAGAM

Tewasnya Wakapolwiltabes Semarang



Reporter : Agus Hermanto
Juru Kamera : Agus Hermanto - Ery Sofyan Hakim - Surnata - Moh.Amin
Tayang : Kamis, 15 Maret 2007, Pukul 12.00 WIB

indosiar.com, Semarang - Wajah Kepolisian Republik Indonesia kembali tercemar menyusul serangkaian kasus yang banyak melibatkan anggotanya. Rabu (14/03/07) pagi kemarin, masyarakat kembali dikejutkan oleh peristiwa terbunuhnya Wakapolwil Semarang AKBP Lilik Purwanto.

Lilik tewas ditembak oleh Briptu Hance, Anggota Provos Polwiltabes Semarang sekitar pukul 7.30 WIB di ruang kerjanya sesaat setelah memimpin apel pagi. Mental dan sistem penyerahan senjata dikalangan anggota kepolisi kembali menjadi sorotan.

Inilah suasana penyergapan Briptu Hance, petugas polisi yang menembak atasannya, Wakapolwiltabes, AKBP Lilik Purwanto, di Mapolwiltabes Semarang, Jalan Dokter Sutomo, Semarang, Jawa Tengah.

Peristiwa penembakan itu sendiri terjadi sekitar pukul tujuh tiga puluh Waktu Indonesia Bagian Barat. Menurut informasi, usai apel pagi, Briptu Hance, Anggota Unit P3-D Polwiltabes Semarang masuk ke ruangan Wakapolwiltabes sambil membawa senjata, dan menyandera seorang Polwan, Aiptu Titik.

Sebelum menembak atasannya itu, Briptu Hance beberapa kali meletuskan tembakan membabi buta ke arah kursi dan lantai kantor.Sesaat kemudian, pelaku langsung menembak AKBP Kilik Purwanto hingga tewas.

Regu tembak dari Resmob Polwiltabes Semarang dan Polda Jawa Tengah didukung regu tembak Densus 88 yang dikerahkan untuk mengatasi situasi itu, akhirnya bisa mendekati lokasi penembakan, dimana Briptu Hance masih bertahan dan menyandera Aiptu Titik.

Sesaat kemudian, Briptu Hance tewas tertembak, karena menolak untuk menyerahkan diri. Latar belakang sang Briptu melakukan tindakan nekad itu masih diselidiki.

Namun kuat dugaan, ia sakit hati karena dimutasi ke tempat lain. Jenazah AKBP Lilik Purwanto dan Briptu Hance tak lama dibawa ke Rumah Sakit Bhayangkara, Semarang, Jawa Tengah.

Segmen 2

Jenazah AKBP Lilik Purwanto dan penembaknya, Briptu Hance Christian dibawa ke Rumah Sakit Bhayangkara, Semarang, untuk diotopsi. Saat itu suasana rumah sakit sempat terasa menegangkan, karena adanya penjagaan yang amat ketat dari polisi.

Wartawan maupun pengunjung hanya diperkenankan berada di luar pagar, yang jaraknya sekitar 100 meter dari tempat jenazah diturunkan. Setiap yang akan masuk ke rumah sakit tersebut akan diperiksa dan ditanyai detil oleh polisi yang bertugas.

Sementara itu, meski jenazah AKBP Lilik Purwanto masih berada di Rumah Sakit Bhayangkara, para tetangga, kenalan maupun kerabat korban, sudah mulai berdatangan ke rumah almarhum di Jalan Bukit Cengkeh nomor 20, Bukit Sari, Semarang, Jawa Tengah. Semuanya ingin menyampaikan bela sungkawa.

Almarhum AKBP Lilik Purwanto baru sekitar enam bulan menjabat sebagai Wakil Kepala Polwitabes Semarang. Almarhum yang berusia 45 tahun itu pernah menjabat sebagai Kapolres Klaten dan Kapolres Kebumen.

Walau kehadiran Perwira Alumni Akademi Kepolisian tahun 1986 itu baru di lingkungan rumah dinasnya, di mata para tetangga, ia dikenal sebagai orang yang ramah dan luwes bergaul.

Anak terkecil korban yang masih duduk di bangku taman kanak-kanak, saat itu juga terlihat masuk rumah. Sementara ibunda sang Wakapolwiltabes, tak kuasa menahan dukanya, menghadapi kematian anak tercintanya.

Rencananya, ayah tiga anak itu akan dimakamkan sore itu juga di Taman Pemakaman Umum Bergota Semarang, yang hanya berjarak beberapa ratus meter dari tempat kejadian, Mapolwiltabes Semarang.

Sementara itu suasana berbeda tampak di Asrama Polisi Labluk, Semarang. Di sinilah kediaman Briptu Hance christian. Menurut para tetangga, baru sekitar dua bulanan yang lalu Hance menikah. Dan selama ini pergaulan Hance tak pernah ada masalah.

Sejumlah rekan korban yang enggan disebut identitasnya mengatakan, beberapa hari sebelum kejadian, Briptu Hance kerap gelisah, sehubungan dengan rencana mutasi dirinya.

Bahkan ia sempat mengatakan, hendak meminjam granat, tapi tak jelas untuk apa.Tapi tak ada yang mengira, hal itu berujung tragedi. Briptu Hance pun membawa sejumlah tanya mengiringi tindakan nekadnya. Mengapa jalan ini yang ia pilih.

Segmen 3

Kasus penembakan Wakapolwiltabes Semarang itu telah menohok wajah Polri secara keseluruhan. Sistem seleksi penerimaan anggota Polri dan mekanisme penyerahan senjata kepada anggotanya, kembali mendapat sorotan.

Peristiwa penembakan Wakapolwilyabes Semarang oleh anggotanya sendiri ini, mendapat perhatian luas masyarakat. Sejumlah pertanyaan muncul, soal bagaimana kasus seperti bisa terjadi, apalagi dilakukan seorang anggota polisi terhadap atasannya.

Berdasarkan data yang kami himpun, kasus ini terjadi seusai apel pagi, sekitar pukul 7.30, yang dihadiri banyak anggota kepolisian.

Tak ada yang menduga, ketika Briptu Hance yang memegang senjata menyandera Aipda Titik, teman sekerjanya di unit P3D, dan bergerak menuju lantai 2, ruang di mana AKBP Lilik Purwanto berada.

Tak ada yang berhasil melumpuhkan, sampai kemudian ia berhasil naik, dan akhirnya membunuh sang atasan. Berdasarkan kondisi Lilik saat ditemukan, diduga tembakan pertama mengarah ke tangan, untuk selanjutnya sang atasan diberondong dengan tiga tembakan mengarah ke dada, tanpa sempat melakukan perlawanan.

Beruntung, sebelum jatuh korban lebih banyak ia berhasil dilumpuhkan Anggota Resmob didukung regu tembak Detasemen 88. Ia bahkan terpaksa dihabisi, karena sempat berusaha melawan.

Drama tragis itu telah terjadi, tapi tetap menyisakan tanya. Bukan saja soal mengapa sang Briptu bertindak, tapi juga kapasitasnya sebagai pemegang senjata.

Menurut Bambang Widodo, tokoh yang selama ini banyak mengamati Institusi Kepolisian, kejadian ini tidak berdiri sendiri, tapi berkait dengan kondisi internal kepolisian selama ini.

Faktor-faktor seperti mental anggota, lingkungan kerja yang kurang kondisif sampai beban kerja yang menumpuk dan lemahnya pengawasan, adalah hal-hal yang memberi pengaruh seorang anggota polisi bertindak diluar batas.

Karena itu, pemberian senjata api menjadi sangat krusial. Menurut Bambang, beban kerja anggota polisi sekarang ini sudah sangat berat dan perlu kajian serius, terutama bagi mereka yang berada di lapangan.

Karena itu menurut Bambang, sudah mendesak, dilakukannya kajian menyeluruh, tidak saja dengan mengevaluasi beban kerja, penciptaan lingkungan kerja yang lebih manusiawi, tapi juga dengan menambah bekal mental kerohanian kepada anggota.

Sejalan dengan harapan itu, Kapolri Jenderal Polisi Sutanto di Jakarta, mengatakan di lembaganya sudah ada mekanisme jelas, baik menyangkut rekrutmen anggota polisi juga menyangkut pemberian senjata bagi anggotanya.

Meski begitu Kapolri mengakui, belajar dari kasus ini, ada hal-hal yang perlu dibenahi. Tragedi itu telah terjadi. AKBP Lilik Purwanto telah pergi, diiringi rasa sedih dan simpati dari banyak kalangan.

Kemarin, sekitar pukul setengah lima sore, jenasahnya langsung dimakamkan di Pemakaman Umum Bergota, Semarang,diiringi isak tangis keluarga, kerabat dan teman sekerjanya. Isteri dan ketiga anaknya tampak tak bisa menahan tangis.

Selamat jalan pak Lilik Purwanto, semoga engkau menjadi momentum bagi membaiknya kinerja kepolisian di masa mendatang. (Firdaus Masrun/Sup)

Bookmark and Share