HOME | BERITA | INFO UNTUK ANDA | LIVE STREAMING | LOWONGAN
indosiar dot com
FOKUS | PATROLI | RAGAM | GOSSIP | SINOPSIS | RESPOND ONLINE | INDOSIAR PEDULI | CORPORATE INFO
RAGAM

Tradisi Sambut Ramadhan



Tim Peliput : Danu Sukendro - Masyhuri Wahid - Agus Hermanto
Narator : Arni Gusmiarni
Editor : Bagus Andriansari
Tayang : Rabu, 03 September 2008, Pukul 12.30 WIB

indosiar.com, - Bulan Ramadhan merupakan bulan suci bagi umat muslim dan karena tanah air kita terdiri dari beragam suku bangsa yang memegang erat adat istiadat disejumlah daerah banyak yang menyambut bulan suci ini dengan ritual budaya.

Pada dasarnya orang Indonesia itu adalah orang yang menghargai adat istiadat dan juga senang kumpul - kumpul. Berbukti menjelang Ramadhan sejumlah daerah menyambut dengan beragam ritual yang selalu antusias dihadiri warganya.

Seperti di Tulung Agung, Jawa Timur. Desa Batang Saran, Kecamatan Kauman, Kabupaten Tulung Agung beberapa malam lalu jadi beda banget dengan barisan nyala obor yang dibawah ratusan warganya. Bukan cuma obor, tapi juga lampion dibawa mengelilingi desa.

Tidak ketinggalan ketabuhan kesenian islami jedor bikin suasana malam itu makin heboh. Nuansa keragaman budaya dalam menyambut datangnya bulan Ramadhan makin berasa dengan hadirnya kesenian etnis Tionghoa liong - liong. Liong - liong yang merupakan tarian ular naga itu beraksi dengan lincah. Padahal panjang juga lho ukuran tubuhnya 73 meter sehingga perlu 22 pemain untuk menggerakannya.

Lain padang lain belang, lain tempat lain juga acaranya. Seperti warga Kuningan di Jawa Barat yang Sabtu (30/8/08) kemarin mengawali tradisi Saptonan dengan parade pesertanya.

Tradisi Saptonan adalah seni ketangkasan berkuda sambil melemparkan tombak pada sasaran serta panahan tradisional. Biasanya Saptonan digelar sebagai rangkaian acara ulang tahun Kabupaten Kuningan. Nah.. tahun ini kebetulan perayaannya berdekatan dengan bulan suci Ramadhan ! Jadi yach.. sekalian !

Para penunggang kuda yang sehari - harinya kerja sebagai kusir jaman itu harus menjatuhkan seember air yang digantung pada dua tiang bambu. Walau kelihatannya gampang, tapi banyak yang meleset dan tidak semua kuda sepikiran sama penunggangnya, sehingga akhirnya yang ada malah keluar lintasan bahkan nabrak tiang.

Masyarakat kota Semarang, Jawa Tengah punya tradisi turun temurun sebagai pertanda awal dimulainya ibadah puasa, namanya dugderan. Ritual dugderan yang konon kabarnya sudah dimulai sejak tahun 1881 itu diawali arak - arakan tetabuhan bedug dengan pengawal berkostum prajurit Kadipaten Semarang tempo dulu.

Dalam arak - arakan ini juga terdapat maskot hewan khas degderan yang disebut warak ngedok dan tentunya semua warga seperti tumpah ke jalanan pada hari itu. Arak - arakan akan berakhir di Masjid Besar Kauman kebanggaan kota Semarang. Uniknya mendekati masjid sebagian rombongan berjalan mundur.

Puncak dari arak - arakan bundaran adalah pengumuman dari sang Walikota Semarang yang dalam ritual ini memerankan tokoh Bupati Semarang tempo dulu. Pengumuman berbahasa Jawa itu adalah utusan ulama Masjid tentang dimulainya awal bulan puasa.

Aneka ragam budaya di tanah air dan semakin membuat bulan Ramadhan jadi moment istimewa. Tentu bukan soal keriaan atau tradisinya yang penting, tapi justru hal itu dijadikan sebagai motivasi untuk menjalani ibadah puasa sebaik - baiknya. (Dv/Sup).

 

Bookmark and Share