
Seluruh isi kapal hangus terbakar. Lebih dari 300 penumpang dan awak kapal kocar - kacir. Sebagian dari mereka terjun ke laut. Lokasi kejadian di Selat Sunda, sekitar Kepulauan Seribu,50 mil dari Pelabuhan Tanjung Priok Jakarta Utara.
Saat terbakar, kapal sarat penumpang dan muatan. Menurut daftar manifes penumpang, jumlah penumpang sebanyak 307 orang. Namun bila dilihat dari jumlah korban, jumlah penumpang melebihi daftar manifest.
Penumpang yang selamat mencapai 300 orang, dan korban tewas melebihi 40 orang. Jumlah penumpang melebihi daftar manifest, karena bayi dan anak - anak, tidak masuk dalam daftar manifes penumpang.
Selain itu, kapal ini juga syarat dengan muatan dan kendaraan. Menteri Perhubungan Hatta Radjasa yang meninjau kondisi kapal dari udara menyatakan, api diperkirakan berasal dari mobil truk yang berada di dalam kapal.
Sedianya kapal ini akan berangkat ke Pangkalan Balam. Bangka Belitung. Namun baru sekitar 5 jam perjalanan, kapal mengalami musibah dan terbakar.
Ratusan penumpang yang terjun ke laut berhasil diselamatkan, namun lebih dari empat puluh penumpang ditemukan tewas terapung di laut.
Menyikapi musibah ini, pemerintah mencabut izin operasi PT Praga Jaya Sentosa selaku operator Kapal Motor (KM) Levina Satu yang terbakar, karena dinilai telah melakukan kesalahan fatal, memanipulasi data manifes penumpang.
Kapal Motor (KM) Levina Satu seakan memang ditakdirkan membawa maut. Belum lagi pencarian penumpang yang hilang selesai dilakukan, kapal ini kembali memakan korban.
Pada hari Minggu, 25 Februari 2007, saat serombongan tim dari Komite Nasional keselamatan transportasi, Puslabfor Mabes Polri dan wartawan tengah berada di kapal ini, kapal tenggelam di Perairan Muara Gembong Bekasi, Jawa Barat.
Sedianya bangkai Kapal Levina Satu akan ditarik untuk dikandaskan setelah pemeriksaan selesai dilakukan. Namun sebelum sempat dikandaskan, kapal telah lebih dahulu tenggelam.
Juru Kamera Lativi, Suherman, dan Juru Kamera SCTV Muhammad Guntur, serta dua orang dari Tim Puslabfor Mabes Polri Langgeng Widodo dan Widiantoro meninggal dunia. Sedangkan Reporter RCTI, Bima Marzuki dirawat intensif di rumah sakit.
Saat kapal tenggelam, diatas kapal terdapat 30 orang. Delapan petugas Puslabfor, empat orang dari KNKT serta 18 Wartawan Media Elektronik, Televisi dan Radio, termasuk Tim Liputan Indosiar, Gusti Eka Sucahya.
Peristiwa ini mirip dengan tragedi Kapal Tampomas Dua, yang terbakar dan tengelam, di Perairan Masalembo tahun 1981 silam, yang menelan korban jiwa lebih dari 600 orang.
Tragedi di dunia pelayaran tidak pernah berhenti. Entah apa yang terjadi di negeri ini. Korban nyawa seakan tak membuat kita belajar dari pengalaman. Atau memang nyawa memang sudah tak ada artinya di negeri ini. (Helmi Azahari/Dv/Sup)