HOME | BERITA | INFO UNTUK ANDA | LIVE STREAMING | LOWONGAN
indosiar dot com
FOKUS | PATROLI | RAGAM | GOSSIP | SINOPSIS | TALK SHOW | KOLOM | RESPOND ONLINE | PEDULI KASIH | KITA PEDULI | INVESTOR RELATION
RAGAM

Upaya Melestarikan Burung Maleo



Juru Kamera : Damar Galih
Lokasi : Lore Lindu, Sulteng
Tayang : 13 September 2006, Pukul 12.00 Wib

Burung Maleo atau Macrocephalon Maleo, merupakan burung endemik yang hanya bisa dijumpai di Kepulauan Sulawesi. Burung ini bisa ditemukan di hutan pegunungan dan hutan pantai, di Sulawesi Tengah.

Sepintas penampilan burung ini biasa saja, selain jambul di kepalanya, burung ini mirip dengan ayam. Dari penampilannya, sulit dibedakan antara burung jantan dan betina.

Daya tarik burung Maleo justru pada telurnya, yang ukurannya lima kali lebih besar dari telur ayam. Inilah yang menyebabkan telur burung Maleo banyak diburu orang. Sehingga kelestariannya terancam.

Telur burung Maleo memang memiliki nilai ekonomis, yang lebih tinggi dibandingkan telur ayam, karena bentuknya yang lebih besar. Harganya di pasar gelap bisa mencapai 50 ribu rupiah per butir.

Burung Maleo sebenarnya dapat bertelur dua kali dalam sebulan. Namun setiap bertelur, hanya satu telur yang dihasilkan.

Sang induk meletakkan telurnya di dalam lubang yang berpasir, yang dekat dengan sumber air panas. Oleh karena itu, habitat asli burung ini berada di sekitar sumber air panas, yang tanahnya berpasir.

Dari hasil riset The Nature Conservancy, sebuah LSM internasional yang bergerak dalam konservasi lingkungan, dari sepuluh habitat burung Maleo di Taman Nasional Lore Lindu, Sulawesi Tengah, kini hanya tinggal 4 habitat saja. Sisanya telah rusak dan punah.

Penyebab utama terancamnya kelestarian burung Maleo tidak hanya telurnya diambil manusia, tetapi juga ganggan dari predator alaminya, yakni biawak dan tikus hutan.

Selain itu, pembukaan lahan hutan untuk perkebunan, dan kebakaran hutan juga menjadi penyebab rusaknya habitat asli burung Maleo. Salah satu habitat burung Maleo yang masih dapat dijumpai di kawasan Sulawesi Tengah adalah di Saluki, kawasan Taman Nasional Lore Lindu.

Untuk mencapai Saluki, dapat ditempuh dengan menggunakan mobil hingga Desa Tuva, Kecamatan Gumbasa, Kabupaten Donggala.

Desa ini berjarak sekitar 45 kilometer arah selatan dari Kota Palu, ibukota Sulawesi Tengah. Selepas dari Desa Tuva, perjalanan dilanjutkan dengan menggunakan sepeda motor sejauh 4 kilo meter.

Di Balai Taman Nasional Lore Lindu di Saluki inilah dilakukan upaya pelestarian terhadap burung Maleo. Lokasi penangkaran terletak di kawasan habitat aslinya, karena hanya di tempat semacam inilah burung maleo dapat berkembang biak.

Di lokasi ini terdapat sembilan kandang penangkaran. Telur burung Maleo disimpan di dalam lubang tanah yang berpasir di dalam kandang, dan akan menetas sendiri dalam waktu 76 hingga 90 hari.

Penangkaran burung Maleo ini turut melibatkan masyarakat sekitar. Salah seorang diantaranya adalah Ambo Tuo.

Kakek tiga orang cucu berusia 60 tahun ini, bersama 10 orang warga lainnya secara sukarela membantu polisi hutan menjaga kelestarian burung Maleo. Di 9 tempat penangkaran di Saluki ini terdapat sekitar 178 ekor burung Maleo.

Sementara di seluruh Taman Nasional Lore Lindu, jumlah populasi burung Maleo diperkirakan mencapai 500 ekor.

Menurut Herman Sasia, koordinator lapangan pelestarian burung Maleo Balai Taman Nasional Lore Lindu, gangguan terbesar dalam melestarikan burung Maleo datang dari predator alamnya, yakni biawak. Selain itu tangan jahil manusia yang mengambil telur burung Maleo.

Kawasan Saluki di Taman Nasional Lore Lindu ini merupakan salah satu tempat penangkaran burung Maleo, yang bisa dijadikan model bagi penyelamatan burung langka.

Kerjasama antara petugas dan warga setempat terbukti mampu menjaga kelestarian burung Maleo.(Indsib)

Bookmark and Share


Page: 1 2
26-Feb-2012 18:49:22 WIB by Mallona
Habitat burung maleo juga terdapat di desa Kailolo Kecamatan Pulau Haruku Kabupaten Maluku Tengah, yang pada saat ini juga mengalami ancaman kelestariannya
Mohon alamat email Herman Sasia (Koordinator lapangan pelestarian burung Maleo Balai Taman Nasional Lore Lindu).
6-Oct-2011 20:22:52 WIB by sHOFYY
mAS maS sEKalian GAMBARNYA
21-Jul-2011 11:21:43 WIB by faisal.amir
sy mau bertanyah..kengunaan atau hasiat telur burung Maleo terhadap
tubuh manusia, apa ada Protein didalam telur burung maleo tersebut atau ada hasiat2 yang lainx.! mohon informasinx.
terimakasih sebelumx pak.
21-Jul-2011 11:11:56 WIB by faisal
sy mau tayakan pak..apa kengunaan/Manfaat Telur burung Maleo
terhadap tubuh Manusia.? mohon penjelasannya. terimakasih sebelumnya.
10-Oct-2010 18:00:43 WIB by puandu
sangat menarik...untuk tambahan beberapa suara kicau burung dapat di download di www.lestarikanburung.blogspot.com
28-Feb-2010 11:06:54 WIB by TYA
Wah, usaha yang baik ya,memang kita sebagai manusia harus menjaga kelestarian Burung Maleo ini jika burung Maleo ini ada di daerah saya mungakin saya akan menempuh jalan lain untuk melestarikannya.
14-Jan-2010 19:55:39 WIB by dwi
gooooooooooooooddddddddddddd
31-Jul-2009 20:01:10 WIB by dewa
wah mantap ini bapak kita (herman sasia), dalam upaya-nya melestarikan burung maleo di desa saluki Kec. Gumbasa Kab. Sigi Propinsi Sulteng, dimana saat ini Juli 2009 telah tercatat 70 ekor yang telah di lepas ke alam bebas, dan dipenangkaran saat ini (Juli 2009) hanya anakan burung 10 ekor yang dipersiapkan untuk dilepas, sementara telur yang terbenam dalam tanah menunggu menetas (secara semi alami)mencapai 106 butir....
keterangan ini saya peroleh langsung dari Beliau (Bapak Herman Sasia) dimana saat ini beliau selain aktif dalam pelestarian hewan langka khas sulawesi, juga tengah menuntut Ilmu bersama kami di Fakultas Hukum....
18-Feb-2009 09:35:47 WIB by agus
Yth,

Mohon alamat email Herman Sasia (Koordinator lapangan pelestarian burung Maleo Balai Taman Nasional Lore Lindu).
Saya ingin kontak langsung by email dengan beliau.
Terima kasih.
4-Jan-2009 18:46:54 WIB by adin priadi
Burung Maleo adalah aset keragaman hayati yang ada di Indonesia. Kita punya kewajiban untuk melestarikanya. Apa yang dilakukan oleh Yayasan Jambata sudah sangat tepat. Mungkin juga kita dapat memberikan sentuhan lain dalam hal penangkaran Maleo. Dengan mempelajari kelembaban dan suhu tempat telur ditetaskan di alam kita dapat menirukannya di mesin tetas sehingga sanitasi penetasan dapat ditingkatkan. Dengan mempelajari komposisi isi usus kita mungkin dapat menciptakan pakan yang sesuai. Pendekatan ini dapat dilakukan secara simultan dengan apa yang kita lakukan secara alami atau semi-alami. Mari kita berupaya untuk melestarikan Maleo dengan berbagai pendekatan. Bravo Yayasan Jambata. Salam

 

Nama:
Email:
Security Code: