HOME | BERITA | INFO UNTUK ANDA | LIVE STREAMING | LOWONGAN
indosiar dot com
FOKUS | PATROLI | RAGAM | GOSSIP | SINOPSIS | RESPOND ONLINE | INDOSIAR PEDULI | CORPORATE INFO
RAGAM

Wayang Kulit Sasak Warisan Budaya Leluhur



Reporter : Helmi Azahari
Juru Kamera : Sugeng Riyadi
Lokasi : Lombok Barat, NTB
Tayang : Rabu, 10 Mei 2006 Pukul 12:00 WIB

Beginilah suasana pertunjukan wayang kulit Sasak. Penuh canda dan gelak tawa. Berbeda dengan wayang Jawa, alur cerita wayang Sasak tidak terikat pada pakem. Sang dalang dapat mengeluarkan tokoh wayang kapan saja, tanpa terikat pada ketentuan yang baku.

Pementasan wayang Sasak biasanya dimulai dengan tokoh Panakawan. Seperti Ocong, Amak Amet, atau Amak Kesek. Pada cerita tokoh Panakawan inilah biasanya penonton penuh, karena cerita yang ditampilkan adalah kisah sehari-hari masyarakat setempat. Bahasa yang digunakanpun bahasa sehari-hari masyarakat Lombok, yakni bahasa Sasak.

Dalang yang pentas kali ini adalah Lalu Nasib Ar. Dalang wayang Sasak yang sangat terkenal di Lombok Barat.

Lalu Nasib yang kini berusia hampir 60 tahun memang sangat terkenal di Gerung, ibukota Kabupaten Lombok Barat. Di rumahnya di kawasan Perigi, Gerung Selatan, tidak pernah sepi dari tamu. Jadwal pentasnyapun hampir setiap hari penuh, kecuali pada malam Jum'at.

Menurut Lalu Nasib, keberadaan wayang kulit Sasak di Lombok berkaitan erat dengan penyebaran agama Islam. Ketika itu, seorang murid Sunan Kalijaga, Raden Sangupati, menyebarkan agama Islam di Lombok melalui pendekatan budaya, antara lain melalui wayang kulit.

Meskipun awalnya berasal dari Jawa, namun sumber cerita wayang Sasak tidak sama dengan wayang Jawa. Sumber ceritanya bukan dari Mahabarata atau Ramayana, tetapi dari Serat Menak, hikayat Amir Hamzah versi Persia yang dialihbahasakan ke dalam bahasa Jawa kuno oleh pujangga kerajaan Mataram Islam, Yoso Dipuro Dua. Karena itu, nama-nama tokoh dalang wayang Sasak tidak persis sama dengan wayang Jawa.

Meskipun digemari masyarakat Lombok, pengembangan wayang Sasak terhambat karena faktor bahasa. Para generasi muda di daerah ini kini tidak banyak yang menguasai bahasa Kawi atau bahasa Jawa kuno. Padahal penguasaan bahasa kawi merupakan syarat utama menjadi dalang wayang Sasak.

Hal ini pula yang mengakibatkan jumlah dalang terbatas. Di seluruh Lombok kini diperkirakan hanya ada 70 dalang wayang Sasak.

Lalu Nasib menilai, dukungan pemerintah kabupaten setempat kurang dalam mengembangkan wayang Sasak, seperti mengadakan festival dalang cilik. Dia berharap, wayang Sasak dapat masuk dalam mata pelajaran ekstra kurikuler di sekolah, sehingga wayang Sasak terus dikenal generasi muda.

Keahlian Lalu Nasib mendalang diperolehnya secara alami. Sejak kecil memang dia sangat senang nonton wayang. Didukung keterampilannya berbahasa Sasak dan bahasa Kawi, jadilah dia dalang terkenal seperti sekarang.

Keseharian Lalu Nasib memang sangat akrab dengan kesenian. Selain menjadi dalang, ayah enam orang anak dan suami dari dua orang istri ini juga menjadi pencipta lagu tradisional Sasak yang terkenal.

Keluarganyapun sangat menggemari wayang. bahkan pada saat-saat santai bersama keluarga, Lalu Nasib tidak jarang menceritakan lakon tokoh wayang kepada anak dan cucunya yang masih kecil.

Meskipun menjadi dalang tidak mudah, namun Lalu Nasib bertekad akan terus melestarikan wayang Sasak. Dia telah mengkader dua orang putranya untuk menjadi dalang. Sehingga seni budaya peninggalan leluhur masyarakat Lombok ini tidak lekang dimakan zaman.(Idh)

Bookmark and Share