HOME | BERITA | INFO UNTUK ANDA | LIVE STREAMING | LOWONGAN
indosiar dot com
FOKUS | PATROLI | RAGAM | GOSSIP | SINOPSIS | RESPOND ONLINE | INDOSIAR PEDULI | CORPORATE INFO
RAGAM

Wisma Kasih Sayang, Penampungan TKI Bermasalah



Reporter : Andry Haryana
Juru Kamera : Sugeng Riyadi

indosiar.com, Jeddah - Bergoyang diiringi musik dangdut, bukan saja pengobat rindu akan tanah air. Namun lebih dari itu. Alunan musik dangdut ini, bagi tenaga kerja wanita yang bekerja di Arab Saudi, bagai pelipur lara dari masalah yang menggelayut di pundak mereka.

Ratusan tenaga kerja wanita ini memang memiliki masalah. Karena itu, mereka berada di penampungan TKI KJRI Jeddah di daerah Al-Rehabt. Tempat penampungan ini, biasa disebut, Wisma Kasih Sayang.

Maswati, gadis asal Kerawang, penjaga kantin di wisma, sebenarnya berada di penampungan karena lari dari majikannya. Maswati kabur, bukannya tanpa sebab. Setiap hendak meminta gaji, selalu dituntut memenuhi permintaan majikannya yang tak senonoh. Beruntung, saat Maswati kabur, ia bertemu warga negara Filipina yang menyarankannya melapor ke KJRI.

Apa yang dialami Maswati, adalah sebuah contoh dari ribuan masalah yang menimpa para TKW yang kini tinggal sementara di wisma. Ada beragam masalah lain yang mereka alami. Mulai dari stress, pelecehan seksual hingga persoalan hamil di luar nikah. Namun dari sekian masalah, terbanyak adalah masalah gaji yang belum atau tidak dibayar majikan.

Para TKW ini, sedikit beruntung dibanding TKW lain. Mereka yang kini berada di penampungan, bisa dibilang lari dan mengadu kepada lembaga yang tepat. Padahal tak sedikit TKW bermasalah yang lari ke penampungan liar dan justru membawa masalah baru.

Banyak pula diantara penghuni Wisma Kasih Sayang, dijaring justru ketika diantar sang majikan saat mengurus perpanjangan paspor di KJRI. Dalam kesempatan wawancara inilah, pihak KJRI menanyakan perilaku majikan mereka. Jika mendapat perlakuan kurang memuaskan, mereka harus menghadap bidang tenaga kerja atau masuk wisma. Tak heran, setiap hari penghuni wisma, tidak kurang dari 150 orang.

Di wisma penampungan, masalah mereka diselesaikan sesuai porsinya atas bantuan KJRI. Sebagai mediator, pihak KJRI berupaya menyelesaikan masalah tanpa harus melalui jalur hukum. TKW yang berada di wisma tidak diperkenankan pulang, sampai haknya dipenuhi majikan.

Jika gaji telah di dapat, itu pun harus dikirim ke tanah air melalui bank, untuk menghindari bulan-bulanan oknum dalam perjalanan pulang.

Selama tinggal di wisma, para TKW bukan sekedar menumpang tidur. Saat-saat menunggu penyelesaian masalah yang tak tentu lamanya, mereka diberi berbagai macam bimbingan. Seperti ceramah atau pengajian, diadakan berkala seminggu sekali untuk memberikan kekuatan mental. Tak jarang, karena tak kuat menanggung masalah, TKW terpaksa dikirim ke rumah sakit untuk mendapat perawatan jiwa.

Selain bimbingan rohani, para TKW mendapat pula ketrampilan lain yang diberikan oleh dharma wanita atau pegawai konsulat. Mulai dari menata rambut, memasak, atau membuat aneka kue. Dengan harapan, sekemBalinya ke tanah air kelak, ada bekal baru yang mereka dapat.

Kegiatan ini juga untuk mengurangi rasa jenuh menunggu penyelesaian masalah. Jika beruntung, masalah mereka bisa diselesaikan dalam waktu hanya beberapa hari, sehingga dapat segera pulang ke tanah air. Namun tak sedikit pula yang terpaksa menunggu berbulan-bulan hingga mencapai tahunan untuk menyelesaikan kasusnya.

Wisma Kasih Sayang, memang ideal untuk menampung TKI bermasalah. Sayangnya, hanya sedikit TKI yang bekerja di Arab Saudi, tahu keberadaannya. Kantor Perwakilan RI atau wisma semacam ini, sebenarnya dapat dianggap sebagai payung, ketika hujan masalah menerpa pekerja Indonesia di luar negeri. Wisma Kasih Sayang, sebuah contoh upaya memberikan perlindungan bagi sang pahlawan devisa.(Idh)

Video Streaming

Bookmark and Share