HOME | BERITA | INFO UNTUK ANDA | LIVE STREAMING | LOWONGAN
indosiar dot com
FOKUS | PATROLI | RAGAM | GOSSIP | SINOPSIS | TALK SHOW | KOLOM | RESPOND ONLINE | PEDULI KASIH | KITA PEDULI | INVESTOR RELATION
RAGAM

Yang Muda Yang Membuat Perubahan



indosiar.com - Tanggal 1 Desember, diperingati sebagai Hari AIDS Internasional. Di Indonesia, Hari AIDS tahun 2008 mengambil tema Yang Muda Yang Membuat Perubahan, mengingat tingginya usia muda yang rawan terinfeksi. Menurut Departemen Kesehatan, pada pertengahan tahun 2008, tercatat 18.963 kasus HIV dan AIDS di Indonesia, dengan kelompok pengidap terbesar berusia 20-29 tahun.

Menjelang usia dua puluh lima tahun epidemi HIV, apakah penyakit yang masih belum ditemukan penangkalnya ini telah berevolusi menjadi lebih berbahaya ? Sejumlah peneliti dari Tri Service AIDS Clinical Consortium mencoba merangkum kembali perjalanan perkembangan penyakit ini secara epidemi.

Dalam pertemuan gabungan Interscience Conference on Antimicrobial Agents and Chemotherapy (ICAAC) dan The Infectious society of America (IDSA) pada 2008 di Washington DC, AS, Ketua Tim peneliti ini Crum Cianfine MD mempresentasikan adanya perkembangan baru dari evolusi virus HIV.

Data baru tersebut mengindikasikan bahwa waktu didiagnosis, orang dengan infeksi HIV ditemukan memiliki jumlah CD4 yang semakin rendah. Dia mengindikasikan, satu penjelasan yang mungkin adalah bahwa setelah beberapa waktu HIV telah berevolusi dan virus tersebut menjadi mampu menghindari deteksi dini dari perlindungan tubuh.

Penelitian tersebut dilakukan untuk menentukan apakah ada bukti bahwa HIV telah menjadi lebih mematikan sejak awal epidemi. Crum-Cianflone menjelaskan bahwa apabila patogen penyebab penyakit diperkenalkan pada populasi manusia, sering kali patogen akan berevolusi, dan mungkin menjadi lebih ganas.

Crum-Cianflone mengatakan, langkah pertama untuk menguji pendapat ini adalah memeriksa apakah orang yang terinfeksi HIV menunjukkan kecenderungan memiliki jumlah CD4 yang lebih rendah waktu didiagnosis. Apabila hal ini terjadi, maka memberi kesan bahwa HIV mungkin telah berevolusi menjadi infeksi yang lebih giat dan membuka jalan untuk penelitian untuk menganalisis HIV dan menentukan apakah virus menjadi lebih berbahaya.

Kelompok Crum-Cianflone meneliti 1.944 orang yang didiagnosis HIV, dan jumlah CD4 awal dihitung dalam dua tahun setelah terinfeksi HIV. Penelitian tersebut melibatkan anggota tentara dengan hasil tes HIV positif dan menerima perawatan antara 1985 dan 2004 di tujuh klinik HIV militer di AS.

Jumlah CD4 rata-rata di antara peserta yang baru terinfeksi HIV menurun setelah beberapa waktu, para peneliti melaporkan. Antara 1985 dan 1990, jumlah CD4 pada awal rata-rata adalah 632. Sebaliknya, orang yang lebih baru terinfeksi HIV – antara 2002 dan 2004 – memiliki jumlah CD4 pada awal rata-rata 499.

Setelah tim Crum-Cianflone memperbaiki analisisnya untuk memperhitungkan variabel yang mungkin mempengaruhi jumlah CD4 pada awal – misalnya ketidakpastian tentang tanggal yang tepat waktu terinfeksi dan faktor misalnya usia, jenis kelamin dan ras – tetap ada kecenderungan penurunan. Jumlah CD4 pada awal dari 2002 dan 2004 rata-rata 113 lebih rendah dibandingkan yang dicatat pada orang yang baru didiagnosis HIV antara 1985 dan 1990. Perbedaan tersebut bermakna secara statistik, berarti bahwa angka tersebut terlalu besar untuk terjadi secara kebetulan.

Yang juga diteliti adalah persentase Odha dengan jumlah CD4 pada awal di bawah 350. Pada awal epidemi, jumlah CD4 yang rendah tersebut dicatat pada 12% pasien. Antara 2002 dan 2004, kurang lebih 25% pasien melaporkan jumlah CD4 pada awal yang rendah.

Para peneliti mencatat bahwa penurunan yang paling bermakna pada jumlah CD4 terjadi hingga 2001, tetapi setelah itu stabil. Hal ini memberi kesan bahwa HIV mungkin telah berubah menjadi virus yang lebih berbahaya pada awal epidemi, tetapi tidak berevolusi lagi selama beberapa tahun terakhir.

Walaupun jumlahnya menarik perhatian, Crum-Cianflone mengingatkan bahwa data tersebut perlu dibentuk kembali dalam populasi peneliti lain. Sebagai tambahan, dia mengatakan, penelitian tentang virus itu sendiri harus dilakukan untuk mencari bukti bahwa HIV telah berubah menjadi jenis yang lebih mematikan.

Sementara dari data terakhir yang dimiliki oleh Departemen Kesehatan menyebutkan jumlah penderita HIV/AIDS hinga bulan Juni 2008 bertambah 819 kasus AIDS dan 148 pengidap HIV. Jumlah keseluruhan yang dilaporkan oleh badan pemerintah ini juga mencatat 212 orang menghidap HIV dan 1546 mengidap AIDS.

Jumlah prevelensi kasus HIV/AIDS tertinggi masih terjadi di wilayah Papua, dengan jumlah 81.02 kasus. Sedangkan wilayah kedua setelahnya yakni terjadi di wilayah DKI Jakarta.

Menurut Sekretaris Komisi Penanggulangan Aids Nafsiah Mboi, prevelensi terbanyak dari penderita HIV/AIDS adalah kalangan usia muda. "Dari kalangan usia produktif,". Yakni antara 15 - 30 tahun dengan jumlah hampir 56 persen dari total kasus. Berdasarkan kasus tersebut, model penularan yang terjadi yakni melalui IDU atau penggunaan jarum suntik dari penggunaan obat obatan terlarang, dengan gender terbanyak terjadi pada pria.

Sementara untuk kasus di Papua menurut Nafsiah, umumnya terjadi karena pengetahuan serta keterbukaan masyarakat terhadap penyakit AIDS masih sedikit. Sehingga penghindaran atau pencegahan penularannya masih sulit ditekan hingga seminimal mungkin. Kampanye memerangi penyakit mematikan ini menurut Namsiah tidak henti hentinya di programkan oleh unsur pemerintah atau lembaga khusus.

Namun pihaknya menyatakan bertambahnya jumlah penderita HIV/AIDS itu bukan sebagai kegagalan dari program memerangi penyakit mematikan itu. "Peran serta masyarakata serta para orang tua yang paling berpengaruh untuk menjaga penyakit itu masuk ke dalam lingkungan keluarga adalah yang paling penting dan utama," kata Nafsiah.(Her/Ijs)

 

Bookmark and Share


Nama:
Email:
Security Code: