
Raden Mas Anom berlatih silat bersama Raden Ayu Nastiti. Tiba-tiba tiga pembunuh bayaran yang disewa pengkhianat Adipati Suryaningrat datang menyerang mereka. Mereka kaget mendapat serangan yang tak terduga itu. Raden Ayu Nastiti bertempur melawan Warok Satu sedangkan RM Anom menyerang Warok Dua dan Warok Tiga. Namun kedua pejuang itu terdesak hebat lantaran ketiga lawan mereka itu ternyata memiliki ilmu tinggi.
Kyai Pengging berusaha membantu kedua muridnya itu, namun juga terdesak. Malah ia terkena serangan lawannya dan muntah darah. Kini ketiga warok bersiap-siap menghabisi RA Nastiti dan RM Anom. Tiba-tiba terjadi perubahan drastis. Tanpa disadari pihak yang bertempur, muncul enam perwira bawahan Tumenggung Dhemit Wengi. Ketiga Warok itu kaget dan dalam beberapa gebrakan, mereka tewas tanpa kepala. Enam perwira tersebut lantas menawan RA Nastiti dan RM Anom yang sudah tidak berdaya lagi.
Panji Kelana yang sedang duduk memikirkan Retno Dumilah, tiba-tiba terdengar suara gemuruh kaki kuda. Ia kaget melihat RA Nastiti dan RM Anom ditawan. Namun Panji Kelana tak bernafsu mengejar mereka. Ia malah menyusuri ke arah berlawanan. Maka sampailah Panji Kelana ke Padepokan Pengging. Dia kage menemukan ketiga Warok yang dikenalnya sebagai Tiga Bersaudara Suromenggolo telah tewas. Panji Kelana pun heran memikirkan siapa yang mengirim mereka.
Tiba-tiba ia mendengar suara rintihan Kyai Pengging. Panji Kelana bergegas menolong pendekar tua itu. Panji Kelana memberitahu Kyai Pengging bahwa kedua muridnya telah dibawa para perwira Dhemit Wengi. Mendengar RM Anom dan RA Nastiti bekerja pada Adipati Suryaningrat, Panji Kelana mulai mengerti kalau kedua murid Kyai Pengging itu telah mendapat informasi dari Ngabehi Singolodra bahwa mesiu dan dokumen itu disembunyikan.
Kyai Pengging pun cemas bahwa tentu kedua muridnya akan disiksa oleh Tumenggung Dhemit Wengi. Dugaannya tidak keliru karena para perwira Dhemit Wengi memang sengaja menangkap mereka untuk dikorek keterangannya. Walau RM Anom dan RA Nastiti disiksa cukup hebat, kedua pendekar muda itu tetap bungkam, tidak sudi memberikan secuil pun informasi pada Tumenggung Dhemit Wengi.
Panji Kelana mengajak Kyai Pengging membantunya untuk memindahkan peti-peti mesiu yang disembunyikan Ngabehi Singolodra. Untuk menuju ke gua persembunyian mesiu itu, mereka harus melalui hutan Gondo Mayit. Mereka diserang oleh gerombolan manusia monyet. Terpaksalah mereka memberikan perlawanan pada para penyerang mereka. Tiba-tiba terdengar suara siulan nyaring meling tajam yang membuat mereka pekak.
Tak lama kemudian muncul Nyi Gondo Mayit yang masih memiliki kaitan dengan Ny i Roro Kidul. Kyai Pengging buru-buru meminta maaf karena mengganggu ketenangan Nyi Gondo Mayit. Tetapi Nyi Gondo Mayit yang merupakan lelembut penguasa hutan itu tidak marah dan memaafkan mereka. Tetapi ia juga berkata bahwa pada suatu hari Panji Kelana harus membayar kekurang-ajarannya. Nyi Gondo Mayit pun melemparkan sekuntum bunga kamboja pada Panji Kelana. Setelah itu ia dan anak buahnya menghilang ....
Jangan lewatkan tayangan episode ke-4 sinetron laga "Keris Empu Gandring" pada hari Selasa (06/07), pukul 19.00 WIB di Indosiar. Selamat menyaksikan.
***
FS