
Dewi Utari dan Yutala terbang menggandeng Kumar mengejar Kala Janggi yang menculik Diman di anak Pancawala. Bersamaan itu pula Nyi Gondo Manyit terbang melintasi bukit dan sampai didepan gua Siluman Srigala. Mulut patung Siluman Srigala Merah itu tertutup rapat. Nyi Gondo Manyit yakin Kala Janggi tinggal disitu. Ia berteriak menantang Kala Janggi. Dari dalam goa terdengar suara Kala Janggi menyuruh Gondo Manyit berguru lagi kalau ingin melawannya.
Nyi Gondo Manyit marah melancarkan pukulan menghantam mulut itu. Terjadi ledakan dahsyat. Namun patung itu tak bergeming cuma asap tebal yang menyebar. Terdengar suara Kala Janggi tertawa. Dari mulut patung meluncur sinar-sinar laser menghantam Nyi Gondo Manyit hingga terlempar, terbanting ke tanah. Nyi Gondo Manyit bangkit sambil mendekap dadanya yang sakit. Kala Janggi menyuruh Gondo. Moncong Patung Srigala bergerak ke arah Nyi Gondo Mayit. Tapi Nyi Gondo Manyit dengan cepat melompat pergi.
Karena tak sanggup menghadapi Kala Janggi, Nyi Gondo pun pergi bersemedi di pantai selatan memohon petunjuk pada Nyi Roro Kidul. Nyi Gondo Manyit kemudian mendengar petunjuk Nyi Roro Kidul. Kala Janggi yang memantau lewat ilmu magisnya tertawa mendengar Nyi Roro Kidul menyuruh Nyi Gondo Manyit harus bertapa selama 100 tahun kalau ingin mengalahkan dirinya.
Rangga Sepuh sedang membicarakan munculnya pedang Kelabang Seribu. Tapi ia bingung karena dalam semua babad kisah tidak pernah mencatat nama pedang itu. Kwik Bun Khing menjelaskan menurut pamannya didekat pangkal pedang ada gambar kelabang dan bentuknya tidak wajar. Tiba-tiba semuanya kaget ketika terdengar suara Ki Brotoningrat, tak lama kemudian orangnya muncul nangkring di dahan pohon di depan halaman rumah Rangga Sepuh.
Ki Brotoningrat pun memberitahukan pada Rangga Sepuh dan Wong Batavia bahwa Pedang Kelabang Seribu dan Keris Empu Gandring berasal dari biji besi yang sama. Kelak keris itu akan ditemukan oleh seorang bocah. Setelah mengucapkan itu Ki Brotoningrat melompat pergi.
Seorang Perwira melaporkan pada Ngabehi Sengkuni, Panji Kelana dan Kyai Pengging yang terluka berada dirumah Retno Dumilah. Tumenggung Demit Wengi menyarankan untuk menangkap keduanya tapi Ngabehi Sungkeni tidak mau berurusan dengan Retno Dumilah sebab hal itu bisa menyulitkan mereka. Namun ia menyuruh Tumenggung Demit Wengi memerintahkan anak buahnya untuk mengawasi kedua buronan itu. Kemudian memerintahkan untuk menangkap Adipati Suryaningrat karena Adipati Suryaningrat banyak menyimpan rahasia yang mereka butuhkan.(gentabuana/indosiar.com/4nd)