
Ngabehi Sengkuni kaget mendengar Ki Brotoningrat menggagalkan para prajurit Demit Wengi menangkap Panji Kelana dan Kyai Pengging. Ia khawatir kalau Ki Brotoningrat dan Retno Dumilah sudah turut campur tangan, tentu akan banyak lagi orang-orang aneh yang turun gunung. Kalau hal itu terjadi, tentu akan membahayakan mereka.
Nyi Gondo Manyit memanfaatkan Dewi Utari untuk melawan Kala Janggi, karena tahu Dewi Utaru sedang memburu Kala Janggi. Dewi Utari sendiri minta petunjuk dari kakeknya untuk masuk ke goa sarang Kala Janggi. Maka Ki Pancapana memberikan petunjuk agar Dewi Utari mempergunakan ilmu Tabir Sukma untuk menembus Tabur Gaib Kala Janggi. Pada kesempatan itu, Nyi Gondo Manyit menyamar sebagai Kala Janggi untuk mengelabui Dewi Utari dan Yutala.
Di hadapan Dewi Utari dan Yutala, Kala Janggi palsu terbang membawa Panji Kelana palsu. Tentu saja Dewi Utari memburu Kala Janggi palsu yang membawa kekasihnya yang berteriak-teriak minta tolong. Kala Janggi asli jadi marah begitu tahu kelicikan Nyi Gondo Manyit. Namun belum sempat berbuat apa-apa, ia keburu bertemu Dewi Utari dan Yutala yang baru sampai di muka goa Serigala Merah. Begitu melihat Kala Janggi, kedua gadis peri itu marah dan langsung menyerang Kala Janggi. Terjadilah pertempuran dahsyat antara kedua belah pihak.
Kesempatan itulah dimanfaatkan Nyi Gondo Manyit untuk menyusup masuk ke goa. Sampai ke dalam, NYi Gondo Manyit pun menyaru sebagai prajurit agar lebih leluasa bergerak. Dalam waktu tidak lama, Nyi Gondo Manyit menemukan yang dinginkannya, yaitu Diman, anak pancawala. Dewi utari dan Kala Janggi yang sedang bertempur menjadi kaget ketika melihat Nyi Gondo Manyit keluar dari goa, kabur membawa Diman. Kala Janggi pun murka dan langsung mengejar Nyi Gondo Manyit sembari memerintahkan anak buahnya turut mengejar. Dewi utari dan Yutala pun tidak mau ketinggalan mengejar Nyi Gondo Manyit.
Akankah Kala Janggi serta Dewi Utari dan Yutala berhasil mengejar Nyi Gondo Manyit ? Kemanakah Panji Kelana asli ?(gentabuana/indosiar.com/fachri)