
Seperti mendengar petir di siang bolong, Azizah (16 th) tak mampu lagi berkata-kata, setelah mengetahui ayahnya terkena stroke dan usahanya bangkrut. Azizah sangat terpukul dan hanya bisa menangis sedih. Ia sadar betul akibat dari peristiwa ini berarti kelangsungan pendidikannya di pesantren akan segera berakhir. Padahal, menjadi guru agama adalah sudah jadi cita-citanya sejak kecil.
Dengan berat hati, kedua orang tua Azizah, Aji Sarman dan Siti Hasanah meminta agar Azizah berhenti dan kembali ke rumah. karena mereka tak mampu lagi membiayai pendidikan Azizah. Azizah benar-benar galau. Di satu sisi, dia tak ingin putus sekolah. Di sisi lain, tuntutan kedua orang tuanya tak mungkin dihindari.
Azizah mencoba bertahan untuk melanjutkan impiannya. Meski dengan resiko tanpa dibiayai orang tuanya. Untuk mendapatkan biaya, Azizah bekerja apa saja dengan seizin pimpinan pesantren. Jadi guru les prevat, jadi penjaga toko sampai tukang cuci santri lainnya.
Garis hidup Azizah amat berbeda jauh dengan kehidupan Alvin (17 th). Anak pertama dari dua bersaudara pasangan Jaya Danuarta dan Indri Ranita itu, hidup serba berkecukupan. Terbiasa dimanja, ditambah perhatian kedua orang tua sangat kurang, tingkah laku dan pola hidup Alvin jadi tak terkendali. Hobinya bikin onar, baik di sekolah, dan luar sekolah. Malam hari foya-foya, dari satu diskotik ke diskotik lain, bersama teman-temannya, termasuk Tania (16 th), pacarnya. Ulah Alvin membuat Jaya dan Indri repot dan hanya bisa mengelus dada.
Alvin cs terlibat perkelahian dengan kelompok anak muda seterunya di sebuah diskotik, karena Tania diganggu mereka. Tawuran antar dua geng tak bisa dihindari lagi. Sial, dalam tawuran itu kepala Alvin dihajar botol minuman oleh lawannya, dan terluka parah.
Alvin mengalami koma. Pasangan suami-istri Jaya Danuarta dan Indri Ranita terpukul dan tak bisa berbuat apa-apa, kecuali menunggu keajaban dari Sang Maha Pencipta bagi kesembuhan Alvin.
Dalam komanya, Alvin didatangi mahluk yang mengaku dosa-dosa Alvin. Alvin sangat takut. Terlebih lagi diperlihatkan bagaimana hukuman buat orang-orang yang berbuat dosa.
Alvin terbangun dari komanya. Takut pada bayangan dosa-dosanya, Alvin bertobat dan ingin meninggalkan masa lalunya. Ia ingin menggali ilmu agama di pesantren. Kedua orang tuanya menyambut baik dan merasa gembira. Permintaan Alvin pun dipenuhinya.
Alvin merasa canggung di lingkungan barunya. Dia jadi serba salah, dan membuatnya kesal sendiri. Ingin marah, tapi marah pada siapa. Karena biasa hidup dilayani, di pesantren harus dilakukan sendiri. Mengurus segala kebutuhannya sendiri, makan dan mencuci pakaian.
Atas saran temannya, Alvin minta Azizah untuk mencuci pakaiannya. Azizah senang, karena ada pekerjaan, sekaligus masukan tetap. Alvin tidak tahu Azizah adalah santri yang merangkap kerja. Dia kadang memperlakukan Azizah sebagai pembantu. Bahkan pernah terjadi, karena kurang hati-hati Azizah membuat pakaian Alvin hangus terbakar, ketika diseterika Azizah. Alvin marah besar dan memaki-maki Azizah. Azizah dengan ikhlas menerima perlakuan Alvin.
Sikap Alvin tidak membuat Azizah dendam sedikit pun. Baginya itu semua adalah sebagai ujian dari Allah SWT. Malah dengan senang hati dan tanpa perasaan apa-apa, Azizah kerap membantu Alvin keluar dari kesulitannya, baik dalam pelajaran maupun persoalan lain. Sikap Azizah ini justru membuat Alvin bingung. Di matanya, Azizah adalah pembantu yang cantik ruhani dan jasmani, cerdas serta tak pernah dendam.
Alvin kaget setelah tahu Azizah adalah santri pesantren itu juga. Alvin penasaran dan menanyakan itu langsung pada Azizah. Azizah menceritakan bahwa semua dilakukan demi mencari biaya untuk kelanjutan pendidikannya di pesantren. Karena orang tuanya sudah tidak mampu lagi membiayainya. Alvin kagum pada Azizah, dan terbersit pula rasa sesal karena memperlakukan Azizah dengan kasar.
Orang tua Azizah tetap menginginkan Azizah berhenti dan pulang kampung. Karena rencananya Azizah akan dijodohkan dengan Tardi (20 th), putra tokoh masyarakat di kampungnya. Mereka terpaksa menjodohkan Azizah, karena tak mampu bayar utang-utang kepada orang tua Tardi. Azizah bingung dan benar-benar dilematis.
Sementara Alvin jadi sering termenung, memikirkan Azizah. Tanpa disadari ada perasaan yang menggelegak mengisi relung hatinya. Perasaan yang selalu ingin dekat dan rindu pada Azizah.
Tania mengunjungi Alvin. Melihat perubahan sikap dan tampilan Alvin, Tania jadi kehilangan gairah cintanya pada Alvin. Tania menganggap Alvin kuno. Tania meninggalkan Alvin dengan sejumlah tanda tanya. Alvin penasaran dan menemui Tania di Jakarta. Tapi alangkah terkejutnya Alvin, begitu melihat Tania sudah menggandeng cowok lain. Dengan perasaan hancur Alvin kembali ke pesantren.
Alvin mendengar Azizah dipaksa kawin di kampungnya. Alvin mendatangi Azizah dengan membawa sekumum mawar merah sebagai tanda cinta kasihnya pada Azizah.
Pada kedua orangtua Azizah, Alvin bersedia membayar utang-utang orang tua Azizah, asalkan rencana perjodohan dengan Tardi dibatalakan. Kesungguhan Alvin dikabulkan oleh orangtua Azizah.
Azizah gembira bisa terbebas dari cengkraman keluarga Tardi. Yang lebih membahagiakannya lagi, dia bisa kembali menimba ilmu di pesantren, bersama dengan Alvin yang sangat dicintainya.(nadas-production/indosiar.com/4nd)
Pernah ditayangkan pada : 26 November 2009, pukul 07.30 WIB.