
Cerita dibuka oleh seorang perempuan yang mendapatkan perlakuan yang tidak pantas dari suaminya. Wanita itu adalah Kuntum, gadis yang dipersunting oleh seorang pria bernama Aditya, anak dari seorang perempuan tirani yang ambisius dan pendendam.
Kuntum menangis dengan pilu. Namun bukannya menenangkan, Aditya malah mengancam akan berbuat sesuatu yang bakal membuat Kuntum menyesal telah dilahirkan ke dunia. Setelah itu, Aditya pergi untuk mengancam seorang pengacara yang akhirnya terpaksa merelakan tanah yang diincar pria itu.
Pasalnya kalau tidak dituruti, maka nyawa pengacara itu menjadi taruhannya. Setelah berhasil, Aditya langsung mengeksekusi tanah yang merupakan pemukiman penduduk tersebut. Keruan saja, semua yang tinggal disana memohon belas kasihan. Namun dengan dingin Aditya menyuruh anak buahnya untuk menghancurkan rumah-rumah yang ada di tanah miliknya.
Di sebuah perkampungan yang masih satu daerah dengan tempat tinggal keluarga Adit, hiduplah keluarga yang terdiri dari Elis, Kamil dan Embun, yang merupakan bagian dari keluarga Kuntum. Mereka harus merelakan Kuntum dinikahi oleh Adit karena mereka sama sekali tidak mempunyai kuasa didepan keluarga Anggita.
Saat baru pulang dari sekolah dan bercengkrama dengan ibunya, Embun mengaku sangat merindukan kakaknya Kuntum, Untuk menghibur putrinya, Elis menyuruh Embun untuk mengantarkan makanan kesukaan Kuntum sekaligus bertemu dengan sang kakak.
Di rumah Aditya, Kuntum merasa kalau yang dialaminya adalah sebuah penderitaan yang tidak berujung dan hidupnya sudah tidak berharga lagi. Akhirnya, wanita malang itu memutuskan untuk bunuh diri dan meninggalkan sebuah surat yang berisi gambaran perasaannya.
Ketika Embun sampai di rumah, dia sempat dijahili oleh Rika dan Latif keponakan Aditya alias anak dari Citra yang sudah menjanda. Rupanya, mereka tidak pernah menyukai Embun dan kerap memperlakukan Kuntum dengan buruk.
Ketika Embun sampai di kamar Kuntum, betapa terkejutnya gadis itu saat mendapati kakaknya sudah dalam keadaan tidak bernyawa tergantung di seutas tali. Embun histeris dan shock dan saking tidak bisa menerima kenyataan itu, gadis itu berlari dengan limbung.
Anggita yang mengetahui hal itu langsung murka, dan meminta semua orang menutupi kematian Kuntum karena akan menjadi aib bagi keluarganya. Namun, berita itu akhirnya diketahui juga oleh keluarga Kuntum.
Elis dan Kamil sangat terpukul dan histeris, apalagi ketika mereka menemukan sebuah keganjilan : ada sebuah bekas jeratan di leher Kuntum saat hendak dimakamkan. Elis yang murka berusaha untuk menuntuk keadilan, ia menemui Anggita dan mengatakan kalau keluarga wanita itulah penyebab kematian Kuntum yang telah diperlakukan semena-mena.
Anggita tidak terima, ia mengancam akan membuat Elis dan keluarganya menderita karena telah menuding yang tidak-tidak. Elis tetap berusaha menuntut keadilan, namun hal itu membuat Anggita benar-benar melaksanakan ancamannya.
Anggita membakar rumah keluarga Elis dan memboikot semua kegiatan ekonomi yang bersangkutan dengan Elis sehingga akhirnya mereka semakin menderita. Melihat kondisi Elis yang kecapekan dan sakit, Embun dan Kamil mendatangi Anggita untuk meminta maaf.
Namun Anggita tidak begitu saja memaafkan pembangkangan Elis, ia ingin melihat mereka lebih menderita. Belakangan, Anggita menyebut akan mengampuni keluarga Elis asalkan Embun menjadi isteri kedua Aditya.(indosiar.com/mdL)