
Karena dipecat dari pekerjaannya, Nita (35) membawa anaknya Khanza (7) dari Jakarta ke sebuah desa di Garut. Nita hendak menitipkan Khanza ke ayahnya, Kakek Dadang (65) untuk sementara waktu, sambil ia berjuang untuk mendapatkan pekerjaan baru di Jakarta. Untungnya Khanza juga sedang libur panjang.
Hidup Nita memang kacau, suaminya menceraikannya dan kabur dengan wanita lain. Karena merasa bersalah dengan Khanza, Nita jadi memanjakannya berlebihan hingga Khanza tumbuh jadi anak perempuan kecil yang bandel dan egois, bahkan berani membantah orang tua. Selama ini tak ada satu pun pembantu yang betah untuk mengurus Khanza.
Khanza kaget ketika tau bahwa kakek Dadang ini bisu, tapi tidak tuli. Kakek Dadang jarang tersenyum, tapi tampak nyata bahwa ia sangat menyayangi cucu yang bahkan belum pernah diliatnya sejak lahir (karena dulu Nita kawin lari). Khanza awalnya males dan menolak dititipkan ke kakek yang bisu, apalagi harus tinggal di rumah yang sederhana, tanpa listrik, di pelosok pegunungan yang sepi pula! Tapi Nita janji, secepatnya ia akan kembali menjemput Khanza jika sudah dapat pekerjaan baru, sekaligus pembantu baru.
Awal tinggal di rumah Kakek Dadang, Khanza sibuk dengan dirinya sendiri. Main Nitendo (dengan batere, karena gak bisa nge-charge), baca buku cerita, main Barbie, mengolah lilin warna-warni, main rumah-rumahan dari merk mainan mahal. Ia sama sekali gak hormat pada kakeknya, bahkan menganggapnya angin lalu. Menatap wajah kakeknya pun ia ogah, karena ia juga gak ngerti apa maunya si kakek yang gak pernah bersuara ini?
Ia juga menolak masakan buatan Kakek Dadang yang berupa sayur-sayuran, tempe, dan tahu. Ia lebih suka ngemil berbagai snacks yang sengaja ditinggalin Nita untuknya. Ketika Kakek Dadang mampu membeli 1 butir telur ayam, ia goreng dan ia berikan sebagai lauk Khanza. Kakek Dadang rela hanya makan dengan sayur kangkung.
Karena rumah induk dengan WC terpisah, suatu malam Khanza mules dan pengen bab. Kakek Dadang rela bangun dan menunggui di depan wc, di tengah dinginnya udara malam. Itu pun pake dibentak-bentak Khanza, “Lagian kenapa gak bikin kamar mandi yang di dalam rumah sih, kek? Payah nih, gak kayak rumah mama!”
Khanza sering memergoki kakeknya yang rajin sholat 5 waktu. Kadang dilakukan di rumah, kadang di mushola kampung yang tak jauh dari rumah itu. Awalnya Khanza heran, karena dia sama sekali gak kenal sholat. Nita pun tak pernah mengajarkannya.
Suatu pagi Khanza melihat ada anak cewek tetangga kakek Dadang, namanya Fitri. Khanza ngetawain baju Fitri yang lusuh, mainan Fitri yang Cuma dari daun-daunan dan gedebog pisang, sambil nenteng boneka plastik jelek, “Huahaha! Mainan apaan tuh? Jelek banget!”. Tapi Fitri tak tersinggung. Ia pergi ke mushola, Khanza yang usil dan penasaran akhirnya menguntit. Ia kaget dan bingung melihat anak-anak kecil seusianya sedang belajar Iqro di mushola itu, “Mereka pada ngapain, sih? Itu yang namanya mengaji ya? Kok Mama gak pernah ngajarin aku?”
Karena batere Nitendonya habis, Khanza hendak membeli batere di warung dekat jalan raya. Tapi ia gak punya uang. Akhirnya ia mengambil sarung kakek Dadang yang paling bagus, lalu membawanya ke kios dan hendak menukarnya dengan batere. Ternyata abang kios kenal sarung itu, ia malah menjewer Khanza dan membawanya pulang ke rumah Kakek Dadang.
Semakin hari, akhirnya Khanza mulai mau menatap wajah kakeknya. Dan ia mulai bisa menangkap bahasa isyarat dari sang kakek. Meski begitu, ia masih gak mau menghormati kakeknya, bahkan masih sering ngebentak-bentak.
Untuk bertahan hidup, sehari-hari Kakek Dadang ke ladangnya yang kecil dan memetik melon dan semangka, kemudian dijual ke pasar. Karena Khanza takut ditinggal di rumah sendirian, maka ia terpaksa ikut ke pasar. Tapi di pasar ia melihat seorang anak cowok seusianya yang tampan, namanya Kamil. Kamil ini ternyata tetangga Kakek Dadang. Ia sedang belanja di sana. Khanza malu jalan sama Kakek Dadang yang bisu, makanya ia melepaskan diri dan mengamati Kamil. Tapi ternyata muncul Fitri. Ternyata Kamil lebih suka Fitri yang polos, baik, dan tulus. Kamil membantu membawakan sebagian belanjaan Fitri. Khanza jadi bete.
Di pasar itu Khanza mengintip dan melihat kakek Dadang yang sibuk menawarkan melon dan semangka dengan bahasa isyarat. Terkadang kakek Dadang sampai maksa ngejar orangnya demi agar dibeli melonnya. Akhirnya orang jatuh iba dan membelinya. Setelah dapet uang, Kakek Dadang mengajak Khanza makan di sebuah warung bakso yang bersih di pasar itu. Berhubung duitnya terbatas dan Kakek Dadang juga lagi puasa ramadan, jadi ia hanya pesan satu. Khanza makan dengan lahap tanpa peduli dengan kakeknya. Kakek Dadang tersenyum lega bisa memberikan makan enak buat cucunya.
Ketika mau naik angkot kembali ke rumah, Khanza melihat anak kecil makan wafer coklat, keliatannya enak. Khanza merengek pada kakeknya. Kakek Dadang memungut plastik bekas wafer itu, lalu ke kios di pasar dan menunjukkan ke penjualnya.
Duit habis untuk membeli wafer. Tapi Kakek Dadang gak peduli, yang penting cucunya senang. Ongkos untuk naik angkot gak ada, akhirnya Kakek Dadang memberi kode agar Khanza naik ke punggungnya. Lalu sepanjang berkilo-kilo meter jauhnya, Kakek Dadang menggendong Khanza pulang ke rumah. Meski panas, capek, lapar (karena puasa) dan pinggangnya sakit, kakek Dadang gak peduli. Bahkan Khanza akhirnya ketiduran dan pulas di punggungnya. Kakek Dadang terus berjalan sampai sempoyongan mau pingsan, sendal jepitnya pun sampai jebol, hingga akhirnya ia nyeker... meski harus melewati jalan bebatuan sampai telapak kakinya beset-beset.
Malemnya, Kakek Dadang meringis kesakitan karena encoknya kumat gara-gara menggendong Khanza tadi. Tapi Khanza tetap gak peduli.
Suatu sore Khanza membantu kakek Dadang memetik melon dan semangka. Tapi karena males nungguin, Khanza sengaja pulang duluan. Semangka dan melon ditaruh di semacam gerobak beroda. Karena lelah berjalan kaki, akhirnya ia iseng naik ke gerobak itu dan menggelinding ke bawah. Tapi sial karena gak ada rem, gerobak kecil itu susah dikendalikan dan nabrak pohon. Khanza babak belur, kakinya pincang. Ia jalan menuju rumah, mendadak ada seekor anjing kampung yang mengejarnya. Khanza ketakutan dan lari terpincang-pincang sambil nangis.
Mendadak muncul Fitri yang dengan berani, menghadang anjing itu, dan mengusirnya dengan sebatang kayu. Anjing pergi. Khanza selamat. Ia jadi malu karena selama ini udah jahat sama Fitri, ternyata malah gadis kampung itu yang menyelamatkannya. Kini, ia dan Fitri jadi berteman. Bahkan akhirnya sedikit demi sedikit, Khanza belajar ngaji dan sholat di mushola, sesuatu yang gak pernah diajarkan ibunya selama ini. Tapi belom sepenuhnya Khanza insyaf. Sifat temperamental dan egoisnya masih ada.
Suatu kali Khanza pengen makan fried chicken. Tapi dia hanya bilang “pengen ayam krispi”. Kakek Dadang gak pernah liat fried chicken yang sesungguhnya, ia hanya menangkap bahwa cucunya pengen lauk ayam. Itu sebabnya ia membongkar celengannya dan beli ayam hidup di pasar. Pulang dari pasar, kakek Dadang kehujanan sampai basah kuyup. Tapi tanpa kenal lelah, ia memasak ayam itu hingga menjadi ayam goreng biasa. Lalu memberikannya ke Khanza. Khanza bukannya berterima kasih atau menghargai, tapi malah ngamuk dan menendang sebaskom ayam goreng itu hingga berserakan di lantai tanah rumah Kakek Dadang, “Bukan ayam kayak giniiii!! Aku gak suka ayam beginian! Aku maunya fried chicken! Kakek norak sih, fried chicken aja gak tau!”
Tapi Kakek Dadang sama sekali gak tersinggung atau marah. Ia mengumpulkan kembali ayam goreng buatannya itu dan membersihkannya. Dengan bahasa isyarat, ia ingin bilang pada cucunya bahwa buang-buang makanan itu dosa. Khanza ngambek, semaleman Cuma makan coklat sisa bekal dari ibunya dulu. Tapi tengah malam, ia susah tidur karena laper berat. Terpaksa ia ke dapur dan iseng mencicip ayam goreng buatan kakeknya tadi yang ditendangnya. Ternyata enak banget! Khanza jadi ketagihan dan tanpa sadar telah makan banyak.
Pagi itu, Khanza heran karena kakeknya tumben belum bangun, padahal biasanya jam segini udah ngajak ke pasar. Khanza kaget ketika melihat kakeknya terbaring sakit dan bersin-bersin. Ternyata ini akibat kemarin kakek Dadang kehujanan habis beli ayam di pasar. Khanza pun sedih dan merasa bersalah. Akhirnya ia menyelimuti kakeknya, lalu memberikannya air minum. Tapi mendadak Khanza gengsi sendiri, akhirnya ia membalikkan badan dan pura-pura tidur. Kakek Dadang rupanya belum sepenuhnya tidur. Ia membuka matanya dan tersenyum melihat cucunya yang sekarang mulai ada perhatian padanya.
Khanza sedih ketika melihat kakeknya gak bisa bangun. Tapi ia kaget saat Kakek Dadang wudlu dengan debu alias tayamum. Kakek Dadang bahkan sholat dengan cara duduk di atas dipannya, tanpa bangun. Khanza lalu diam-diam ke mushola, lalu mengintip dan belajar tentang sholat. Ia mendengar suara Kamil yang melafazkan al Fatihah dan surat lainnya dengan keras. Khanza berusaha mengikuti.
Malamnya, ia sholat sendiri sebisanya. Bahkan dengan kain/selimut sebagai mukenanya. Lalu setelah itu ia berdoa, memohon pada Alloh agar kakeknya diberi kesembuhkan. Kakek Dadang yang merangkak mau ambil minum di ruang tengah, kaget liat cucunya sholat. Ia terharu sampai nangis.
Bahkan kemudian Khanza mau ikut belajar puasa meski hanya setengah hari.
Surat dari Nita pun datang (Nita memang sengaja tidak memberi ayahnya hp karena gak mungkin bicara juga, dan di gunung juga susah sinyal). Di surat itu, Nita bilang akan menjemput Khanza Lebaran nanti. Mendadak Khanza jadi sedih, akhirnya ia balas surat ibunya, minta agar nanti ke kampung membawakan beberapa mainan, pakaian, sepatu, juga makanan-makanan kaleng yang enak. Nita bingung, untuk apa? Bukankah mereka udah mau balik ke Jakarta, kenapa malah bawa barang-barang lagi? Tapi akhirnya ia menuruti permintaan anaknya.
Ketika Lebaran tiba, Nita datang membawa banyak barang. Khanza ternyata malah memberikan barang-barangnya itu ke anak-anak kampung. Nita kaget, tapi Khanza bilang, “Kasian mereka. Mereka gak seberuntung Khanza.”
Nita juga kaget, karena sekarang Khanza lebih sopan padanya, padahal dulu anaknya ini suka membentak-bentak dan nangis keras kalo keinginannya tak dipenuhi.
Khanza lalu mengajak Nita untuk ikut sholat ied di lapangan kelurahan, bersama Kakek Dadang dan para tetangga. Khanza senang banget, baru kali ini dia merasakan berlebaran dalam suasana ramai dan hangat. Semua terasa dekat dan saling peduli, gak kayak tetangga mereka di kota yang hidup masing-masing.
Nita pun terharu dan berterima kasih pada ayahnya, yang telah membuat Khanza berubah jadi anak sholehah. Nita janji akan lebih perhatian pada anak tunggalnya, agar menjadi anak yang lebih baik dan bisa menghargai orang tua. ***
