
Subadi (Badi) bersama istrinya yang tengah mengandung berasal dari Cirebon, mengadu nasib ke Jakarta menjadi kuli bangunan atas ajakan Katut, kakaknya. Katut merasa kasihan dengan nasib Badi yang dihina oleh mertuanya karena Badi berani menikahi anaknya, Dewi yang sekarang sedang hamil.
Badi belum biasa menjadi kuli bangunan, ia menjadi bahan ejekan dari Mandor Urip. Mandor Urip selalu merendahkan Badi sampai akhirnya Badi marah dan terjadilah perkelahian. Tapi Katut malah memarahi Badi untuk segera meminta maaf dan berjanji tidak mengulanginya hal tersebut.
Di sisi lain, Dewi istrinya yang tengah hamil tua selalu digoda dan dirayu Leman, seorang preman pemilik rumah kontrakan dimana Badi dan Dewi tinggal. Dewi tidak suka kelakuan Leman yang kurang ajar dan tidak tahu diri. Ia akhirnya memarahi Leman, tapi justru Leman makin menggila. Malamnya, sambil mabuk, Leman pun mendatangi rumah kontrakan mereka dan sengaja mengganggu.
Badi Merasa tidak cocok hidup di Jakarta, begitu pula dengan Dewi. Menurut mereka, orang-orang disini jauh lebih mengerikan daripada orang-orang di desanya. Apalagi dengan bekerja sebagai kuli bangunan, suatu pekerjaan yang sangat direndahkan oleh mereka. Satu lagi, mereka disini bagai hidup dibawah reruntuhan moralitas.
Nah, apa yang akan terjadi selanjutnya? Saksikan dalam Sinetron berjudul Allah Maha Besar 2 yang berjudul Di Bawah Reruntuhan Bangunan...