
Gunung Krakatau yang terletak di Selat Sunda ini pernah meletus dahsyat pada Senin, 27 Agustus 1883 sekitar pukul 10.00 WIB. Letusnya terdengar sampai jarak 4653 Km dari Gunung Krakatau. Berdasarkan catatan sejarah, tragedi ini menelan korban jiwa kira-kira 36.417 orang.
Letusannya yang terbesar ketiga didunia melontarkan ejekta (debu dan batu apung) sebanyak 18 Km kubik. Dan kisah berikut ini diangkat dari penuturan Bapak M. Sa'i (71 tahun) cucu dari seorang kakek yang menjadi saksi hidup peristiwa tersebut. Kisah nyata ini terjadi di wilayah pesisir Banten, Pantai Carita dan Kampung Cinangka, Banten. Beberapa bagian dari cerita ini disesuaikan dengan format sinetron.
Beberapa menit menjelang meletusnya Gunung Krakatau di pesisir Banten, Parta dan anak buahnya cukup sadis memperlakukan para petani dan nelayan dalam soal pembayaran pajak. Parta dan Oman memang antek Belanda yang bertugas menagih pajah penduduk. Melalui anak buahnya, Parta tidak segan-segan untuk membacok atau membunuh siapa saja yang melawan perintahnya.
Hewan piaraan seperti kerbau atau kambing adalah sasaran rampasan Parta bagi petani atau nelayan yang tidak bisa membayar pajak. Bahkan anak perawan yang terlihat cantik pun akan diangkutnya untuk diperistri.
Saat Parta dan anak buahnya menagih pajak ke rumah Madropi, Gunung Krakatau yang sudah aktif (menurut catatan Neumann van Padang) sejak 1883 itu meletus dahsyat. Orang-orang pun panik bukan lantaran debu dan batu apungnya saja, tetapi juga akibat letusan Krakatau, air laut jadi naik ke darat dengan gelombang yang mencapai ketinggian kurang lebih 30 meter. Parta dan anak buahnya pun ikut tersapu air. Namun Madropi, Duloh dan anak perawan juga seorang nelayan, berhasil menyelamatkan diri karena mereka pandai berenang.
Madropi sebenarnya berhasil menyelamatkan Parta dan Oman dari arus gelombang air laut dan membawanya ke atap sebuah rumah. Namun karena sifat kejamnya, Parta menyuruh Oman untuk menendang tubuh Madropi hingga terpental kembali ke air.
Tetapi tidak lama kemudian, Parta dan Oman pun kembali tercebur ke arus air karena atap rumah yang didudukinya ambruk karena tiang penyangga rumahnya patah dihantam air. Parta dan Oman akhirnya tewas terapung terbawa arus air. Sedangkan Madropi kembali berhasil menyelamatkan diri naik ke dataran yang lebih tinggi.
Sementara itu Sanaah (istri Madropi), Sonjaya dan Munah (anak Madropi) berhasil menyelamatkan diri ke hutan dan singgah di sebuah gubuk. Walau sebelum sampai ke tempat itu, Sanaah dan kedua anaknya harus berpisah dengan Kurdi sewaktu berlari dan mengambil arah yang berbeda. Sanaah pun nyaris tewas ketika ia tercebur ke arus air kali yang meluap. Tetapi batang pohon kelapa menyelamatkannya di saat kritis.
Allah maha besar, keluarga Madropi yang cerai berai akhirnya bertemu kembali berkat kegigihan dan ketabahan mereka dalam menghadapi musibah yang menimpanya.