
Kemarahan Sangga Buana memang sangat beralasan ketika harga diri dan kehormatannya dilecehkan oleh Jaka Purwa sang penguasa dari kerajaan Sukapura. Betapa tidak, Tumenggung Purwacaraka yang telah dijodohkan dengan putrinya Sekar Arum, tiba-tiba dikabarkan sudah menikah dengan gadis lain.
Hampir saja genderang perang ditabuh dan nyaris meluluh lantahkan kerajaan Sukapura. Beruntung, Jaka Purwa dapat mengambil langkah. Yakni, tetap akan menikahkan Purwacaraka dengan Sekar Arum dan menjadikan sang putri sebagai permaisuri putranya. Sedangkan gadis lain yang dinikahi oleh Purwacaraka, yakni Pandan Wangi hanya menempati posisi sebagai selir.
Akan tetapi langkah sang ayah ditentang keras oleh Purwacaraka. Api cintanya yang begitu membara pada sang isteri tak akan pernah bisa terbagi pada siapapun sekalipun ia putri dari kerajaan Galuh Pakuan ibu dari Seantero kerajaan yang ada ditatar Pasundan.
Jaka Purwa kemudian memberikan dua pilihan, menikah dengan Sekar Arum atau bangsa dan negaranya akan luluh lantah oleh kerajaan Galuh Pakuan. Tak ada pilihan, Purwacaraka pun akhirnya menyerah. Tetapi dengan syarat, meminta waktu untuk pergi menenangkan diri sambil mencari ilmu sebagai bekal jika kelak dirinya menduduki tahta sebagai raja.
Namun takdir berkehendak lain, sang isteri terkasih Pandan Wangi tewas dalam satu kecelakaan. Ironisnya, Pandan Wangi tewas disaksikan oleh adik kandung Purwacaraka, yakni Mandasari tanpa sang adik tidak berusaha sedikitpun menolong bahkan membiarkan sang kakak ipar mati secara mengenaskan. Karena sesungguhnya, Mandasari tak pernah merelakan Purwacaraka dimiliki oleh perempuan manapun disebabkan oleh rasa kasih sayang yang terlampau berlebihan terhadap sang kakak.
Dalam kegalauan dan keputusannya, Purwacaraka kemudian bertemu dengan seorang gadis yang wajah dan penampilannya sangat mirip dengan Pandan Wangi. Bak pinang dibelah dua! Api cinta yang sempat padam, kini kembali menyala bahkan berkobar-kobar hebat. Namun siapa yang dapat menduga, untuk api cintanya yang ini, orang lainnya yang juga ia kasihi, harus jatuh sebagai martir.(gentabuana/indosiar.com/4nd)