
Mangkatnya sang bupati Suryanegara, menimbulkan permasalahan yang cukup pelik di lingkungan Kabupaten Sumedanglarang. Pasalnya, putra mendiang sang Bupati bernama Raden Jamu masih sangat muda belia belum memenuhi syarat untuk dapat menggantikan kedudukan sebagai Bupati. Salah seorang demang, yakni Patrakusumah lantas ditunjuk sebagai Bupati Perwalian. Sambil menunggu Raden Jamu cukup umur dan layak memangku jabatan tersebut.
Seorang mantan demang yang dahulunya pernah dipecat secara tidak hormat oleh mendiang Suryanegara, yakni Demang Dongkol tiba-tiba muncul lalu menghasut Patrakusumah yang juga menantunya sendiri untuk menyingkirkan Raden Jamu dan ibunya, Nyai Suryanegara dengan cara yang tidak manusiawi.
Dengan tujuan agar tampuk kekuasaan dapat menjadi milik Patrakusumah seutuhnya. Keserakahan dan kedengkian Demang Dongkol tidak lantas berhenti sampai disitu. Sang Demang bahkan ingin memiliki keris pusaka warisan leluhur yang sangat sakti mandraguna, yakni keris Tajimalela dan kini berada di tangan Raden Jamu.
Siasat licik pun lalu dijalankan oleh sang Demang. Berdalih mempererat kekerabatan antara keluarga Raden Jamu dengan keluarga menantunya, maka Raden Jamu yang sudah menginjak usia dewasa dinikahkan dengan Candranegara, putri tunggal Patrakusumah.
Dengan harapan, Demang Dongkol akan lebih mudah menguasai keris pusaka tersebut. Namun, setiap kali Demang Dongkol berusaha mencuri keris tersebut kesialan pun selalu menimpa dirinya. Dan yang lebih malang lagi, keris pusaka Tajimalela itu justru menjadi senjata pembunuh bagi dirinya sendiri.
Sadar bahwa selama ini telah termakan hasutan sang mertua, Patrakusumah akhirnya menyerahkan tampuk kekuasaan Bupati Sumedang pada Raden Jamu yang kemudian bergelar sebagai Pangeran Kusumahdinata.
Namun kemelut yang terjadi di tanah Sumedang belumlah berakhir. Gubernur Jenderal yang terkenal kejam bernama Herman Wilem Daendels membuka jalan mulai dari Anyer sampai ke Panarukan, menindas dan mempekerjakan rakyat Sumedang secara paksa. Yang dikenal dengan rodi.
Tak tega rakyatnya ditindas semena-mena sang pangeran lantas turun tangan. Dalam satu pertemuan, Pangeran Kusumahdinata sengaja menyambut jabat tangan sang Gubernur dengan menggunakan tangan kiri. Sedangkan tangan kanan sang pangeran siap mencabut keris pusaka.
Sebagai tanda perlawanan sang pangeran terhadap pemerintah Hindia Belanda. Tindakan tersebut membuat Daendels justru merasa salut atas keberanian sang pangeran. Bahkan kemudian, sang pangeran diberi pangkat tituler sebagai Kolonel. Namun, rakyat awam kemudian menyebutnya dengan panggilan "Pangeran Kolonel".(gentabuana/indosiar.com/4nd)