
Jakarta begitu megah dan indah, begitulah gambaran Tina gadis asli Sunda yang cantik, cerdas, anggun, dan punya obsesi jadi wanita karier. Karenanya, Tina bertekad melanjutkan kuliah di Jakarta meski untuk itu ia harus menganggur setahun setelah lulus SMA.
Pasalnya, sang ayah Maman yang seorang petani harus mengumpulkan uang terlebih dulu dari hasil panen sawahnya yang hanya beberapa petak, sementara Ibunya Ninin hanyalah seorang penjahit. Keduanya tidak cuma harus membiayai Tina yang bakal mengadu nasib kuliah di ibukota, tapi juga Tita yang masih duduk di bangku SMP.
Begitu sampai di terminal Kampung Rambutan, Tina begitu bahagia karena inilah pertama kalinya ia menginjakkan kaki di Jakarta. Perjalanan panjang dari Sukabumi selama 3 jam tidak sedikitpun membuat gadis itu lelah, Tina langsung menuju tempat kos yang alamatnya sudah diberikan salah satu kerabatnya.
Tidak terlalu sulit bagi Tina untuk memahami dan mengurus segala sesuatunya karena semua hal mulai dari informasi pendaftaran kuliah hingga tempat kos sudah dipelajarinya selama 1 tahun di desa.
Di hari pertama kuliah Tina sangat antusias, Fakultas Komunikasi yang dipilihnya berbeda dengan fakultas-fakultas lainnya. Mahasiswa dan mahasiswinya berpenampilan segar dan menarik, rata-rata mereka sangat bersahabat sehingga dalam waktu singkat Tina sudah menemukan 2 sahabat baik.
Tak terasa 1 semester sudah dilalui, Tina yang pintar dan cantik sangat dikenal oleh teman-teman dan dosen hingga dijuluki Putri Impian. Karena pesonanya yang luar biasa, tak sedikit mahasiswa dan dosen muda berusaha mendekatinya. Tapi dengan halus Tina menolak, karena tekadnya sudah bulat untuk bisa sukses lebih dulu sebelum memikirkan cinta.
Tiba-tiba pada suatu hari terjadi hal yang menyedihkan, ayah Tina harus merelakan sawahnya untuk dijual karena panen yang gagal meninggalkanbanyak hutang. Untungnya ujian semester sudah lewat sehingga kesedihan tidak mempengaruhi nilai-nilai ujian.
Tina yang pantang menyerah mulai berdialog dengan dirinya sendiri untuk memikirkan kelangsungan biaya kuliahnya. Ia mulai melamar kerja lewat kolom lowongan kerja di koran sampai akhirnya diterima di sebuah perusahaan swasta menjadi resepsionis. Kerja mulai pagi hingga sore yang dilanjutkan dengan kuliah pada malam hari dijalani Tina, tak jarang keletihan terlihat diwajahnya yang cantik.
Empat tahun berlalu, Tina diwisuda dengan nilai cum laude dengan dihadiri oleh ibu, ayah dan adiknya hadir. Setelah mengantongi gelar sarjana, kesempatan terbuka lebar, Tina dan sahabat-sahabatnya Riri dan Anny mendirikan sebuah perusahaan PR Consultant.
Karena supel dan pertemanan ayah Riri yang adalah seorang pengusaha sukses, dalam waktu singkat perusahaan Tina dipercaya oleh perusahaan-perusahaan bonafid, cita-citanya menjadi wanita karir sudah tercapai.
Satu-satunya yang masih mengganjal yaitu urusan cinta, 5 tahun berlalu dan ayah Tina mulai sering menanyakan kapan putrinya bakal menikah melalui surat. Tina tidak pernah mengenalkan seorang pria pun sebagai pacar, sementara sahabatnya Riri sudah menikah dengan Anto kekasih semasa kuliah dulu dan dikaruniai 1 putri, dan Anny sedang mempersiapkan pesta pernikahannnya dengan Iwan anak buah ayahnya di kepolisian.
Tina sendiri bukannya tidak berusaha mencari jodoh, tapi setiap yang belum ada satu pria punyang klik, selalu saja ada yang kurang dimatanya. Semua berubah saat dirinya bertemu Igor, pemuda Batak yang memimpin perusahaan di sebelah kantornya. Igor adalah eksekutif muda yang sukses, cool, sopan dan tidak sombong sehingga penampilannya menarik perhatian Tina beberapa hari terakhir ini.
Nampaknya Dewa Cinta sedang mendekati Tina dan Tigor, beberapa kejadian mempertemukan keduanya secara kebetulan. Gayung tersambut, Igor dan Tina mulai saling jatuh cinta. Cinta bersemi di usia mereka yang tidak muda lagi, Tina sudah menginjak 29 tahun sementara Igor Tampubolon 33 tahun.
Seperti tak ingin terpisahkan, tiap hari Tina dan Tigor terus bersama sampai menyadari bahwa hubungan mereka tak mungkin dilanjutkan karena perbedaan suku, agama dan latar belakang keluarga menjadi kendala yang besar untuk menyatukan cinta.
Tantangan terbesar dari keluarga Igor yang menginginkan anak kebanggaannya menikah dengan gadis Batak yang jadi paribannya, gadis itu juga sudah menunggu Igor semenjak di bangku SMA. Konflik, penghinaan serta perlakuan sinis diterima Tina orang tua Igor, namun gadis itu menanggapi dengan besar hati karena ia sangat mengerti akan budaya keluarga Igor yang juga mesti dihormati.
Cinta mereka memang dewasa namun buntu, tapi sulit bagi keduanya menemukan cinta sejati lagi di usia yang sama-sama mepet. Tinggal 1 hari lagi maka Igor akan ditunangkan dengan paribannya, sehingga mereka harus ambil keputusan. Di penghujung hari, mereka memutuskan untuk memilh pergi mempertahankan cinta mereka.
Dengan bantuan Sahabat Igor, akhirnya mereka menikah di luar negeri, dan setahun kemudian mengabari orangtua Igor lewat surat untuk memberitahu kalau keduanya sudah menikah dan baru saja dikarunai satu putra yang diberi nama Perkasa Tampubolon.
Tidak ada sepatahkatapun yang diucapkan ayah Igor, beliau meneteskan airmata dan dalm hatinya bangga ternyata Igor masih menyertakan marga Bataknya untuk cucunya nun jauh disana. Kini aku sudah jadi Opung, begitu bisik ayah Igor pada dirinya sendiri.(nadas-production/indosiar.com/mdL)
Pernah ditayangkan pada : 12 Desember 2009 pukul 15.30 WIB