HOME | BERITA | INFO UNTUK ANDA | LIVE STREAMING | LOWONGAN
indosiar dot com
FOKUS | PATROLI | RAGAM | GOSSIP | SINOPSIS | RESPOND ONLINE | INDOSIAR PEDULI | CORPORATE INFO
SINOPSIS

Sinema Siang

Hadiah Untuk Bunda

Tayang: 9-Dec-2012 12:30 WIB

Faizal biasa dipanggil Ijal (7 th) hanya hidup berdua dengan emaknya, Siti (40) yang sudah lama menderita TBC. Untuk berobat, rasanya sudah capek dan menghabiskan banyak biaya. Ayah Faizal sudah kabur meninggalkan keluarga sejak Faizal bayi. Sejak itu pula, Siti harus banting tulang sebagai buruh cuci di 2 keluarga, yaitu keluarga haji Zaenal yang songong dan tukang pamer, dan keluarga haji Ahmad yang baik dan sangat low profile.

Siti suka sekali mengumpulkan gambar-gambar Kabah, suasana Mekkah dan kegiatan orang berhaji. Sering dia berangan-angan bisa datang ke rumah Alloh. Ijal sering memergokinya dan trenyuh. Ia tau emaknya rajin menyisihkan sebagian uangnya untuk ditabung di tabungan haji, tapi kalo dilogika, mungkin 15 tahun lagi baru kekumpul untuk bisa berhaji.

Haji Zaenal yang udah naik haji 3 kali itu, tahun ini mau naik haji lagi. Dia sangat bangga setiap kali lewat jalanan kampung diikuti asistennya, sambil bagi-bagi sembako, tangannya diciumi dan semua orang tampak hormat, seolah-olah dia sudah jadi pahlawan. Kalo kasih sumbangan untuk mesjid komplek juga maunya namanya disebut-sebut pake toa. Beda dengan Haji Ahmad, meski punya mesjid sendiri, tapi dia gak pernah sok. Meski sudah sering pergi berhaji, tapi haji Ahmad lebih suka kalo dipanggil nama aja tanpa gelar ‘haji’. Setiap zakatnya, hanya menjadi urusan dirinya dengan Alloh, orang lain tak perlu tau.

Ketika memergoki Siti menatap foto Kabah di ruang tamu Zaenal malah ngeledekin, “Udahlah, naik haji itu hanya untuk orang yang mampu.” Tapi dengan rendah hati Siti bilang, “Kata Pak ustadz, kalo kita yakin dan punya niat besar, insyaalloh ada jalan.”

Zaenal tetep ngeledek, “Ya iyaaa... tapi niat ama keyakinan doang, mana bisa? Ibarat kata lo buat makan aja Senin-Kamis, alias sahur Senin bukanya baru Kamis, gimana duit bisa kekumpul buat naik haji? Paling murah aja 30 jutaan! Duit dari mane coba? Ngimpi?”

Siti bilang, “Rezeki dari Alloh itu sering datang dari arah yang tak diduga-duga, Pak.”

Ijal yang kasian liat emaknya, kini sepulang sekolah sering mampir ke sebuah bengkel motor milik haji Ahmad, dan bantu-bantu cuci motor pelanggan. Dia dapet upah yang selalu dia tabung di celengan ayam. Siti tak pernah tau soal itu. Haji Ahmad yang tau, jatuh kasian. Ia bilang ke anak buahnya, agar memberi bayaran lebih pada Ijal.

Segala upaya Ijal coba, demi agar ibunya bisa naik haji. Ijal gak peduli meski menjadi bahan tertawaan teman-temannya, “Yang bener aja lo! Masa mau nabung buat emak lo naik haji? Naik genteng apa naik pohon aja kaliiii! Naik haji sih muahaaalll!”

Temannya yang nakal ada yang  ngajak dia mencuri agar cepet dapet duit banyak, tapi Ijal menolak keras. Mencuri itu berdosa. Masa kita mau ke rumah Alloh dengan uang hasil curian?

Sialnya ketika uang di celengan udah kekumpul dan mau dibawa ke bank untuk ditabung, Ijal malah kecopetan, duitnya semua ilang! Ijal nangis sedih. Tapi Siti malah menghibur, mungkin itu memang bukan rejeki mereka, tapi yakinlah suatu saat Alloh akan menggantinya dengan yang lebih besar!

Ijal semakin bekerja keras untuk mewujudkan impian ibunya. Kini, selain cuci motor dia juga jadi loper koran kalo pagi. Ia bahkan sengaja gak jajan di sekolah.

Suatu kali ia melihat ada promo sirup yang berhadiah naik haji. Tapi berhubung mereka gak mampu beli sirup (sayang uangnya), Ijal cari akal. Suatu kali ia melihat istri Haji Ahmad (Hajah Aida) baru pulang dari belanja di supermarket. Ijal yang sedang jemput emaknya dari kerja nyuci di rumah itu, membantu menurunkan barang belanjaan dan meminta stiker sirup itu. Hajah Aida memberikannya sambil tersenyum, ketika Ijal bilang pengen ikut undian naik haji untuk ibunya. Hajah Aida sama sekali gak meremehkan, malah mendoakan semoga Siti menang.

Beda dengan Zaenal yang memergoki Ijal pulang bawa stiker sirup itu. Zaenal ngetawain, “Itulah orang miskin, kebanyakan ngayal, gampang dibodohi! Kalo mimpi jangan tinggi-tinggi, ntar kalo jatuh sakit. Lagian percaya aja sama undian berhadiah! Itu tuh penipuan, Cuma biar produknya laris aja!”

Ijal dan Siti nekad mengirimkan kupon, tapi ternyata gak keluar sebagai pemenang. Siti jadi sedih. Tapi Ijal selalu sholat dan berdoa mohon sama Alloh, agar sebelum ajal menjemput ibunya, kesempatan naik haji itu sudah di tangan.

Ketika Siti kecapekan, TBC-nya kembali kambuh, sampai jatuh dan harus dirawat. Terpaksa semua uang (bahkan sampai menjual barang) dipakai demi Siti agar bisa dirawat di klinik. Uang Siti dan Ijal jadi nol lagi. Keduanya jadi sedih.

Akhirnya mereka berdua berusaha sabar, ikhlas dan menerima kenyataan. Mungkin benar kata Haji Zaenal, tidak perlu memaksakan diri. Kalo memang tidak mampu, ya sudah. Ijal lalu berjanji, akan sekolah dengan baik sampai bisa jadi orang sukses dan banyak duit, supaya nanti bisa memberangkatkan emaknya naik haji. “Tapi kan sekarang umurku baru 7 tahun? Kalo emak keburu meninggal gimana?” pikir Ijal sedih.

Siti berusaha melupakan keinginan itu, tapi Ijal tetap pada cita-citanya. Hingga suatu saat, ada lomba baca Al Quran dengan hadiah yang menggiurkan. Juara pertama mendapatkan motor (dan umroh), juara kedua umroh, juara ketiga mendapatkan motor. Ijal mendaftarkan diri dan berharap bisa meraih juara kedua, karena ingin agar emaknya bisa umroh gratis.

Tapi karena memang lafaz ngajinya bagus banget, akhirnya Ijal keluar sebagai juara pertama. Semua penonton dan pendukung keheranan, kenapa Ijal malah tampak kecewa dan sedih. Ijal pun menemui ibunya dan minta maaf, karena gak bisa memberi hadiah pergi umroh. Siti tersenyum dan bilang, apa pun itu ia sudah sangat bangga pada prestasi anaknya. Itu patut disyukuri.

Ketika motor dibawa pulang, keduanya bingung, karena Siti pun tak bisa naik motor. Mau dijual dan uangnya untuk pergi umroh, sayang juga karena itu motor kenang-kenangan. Gak taunya ada 1 buah amplop yang belum dibuka. Ketika Ijal dan Siti membukanya, ternyata itu adalah hadiah umroh gratis! Ijal dan Siti sangat bersyukur. Siti terharu. Meski belom bisa pergi haji, setidaknya ia akan segera bisa melihat Kabah, berkunjung ke rumah Alloh. ***

 

 

Bookmark and Share