
Zahra (17th) lulus sekolah Aliyah dengan nilai terbaik bersama Siti Hamidah (17th) sahabat kentalnya. Meski gadis itu sekolah agama, Zahra diterima masuk di Universitas Negeri ternama.
Kedua orangtuanya, M. Abdullah (45th) dan Diah (40th) amat bangga dengan prestasi putrinya. Mereka pun mengadakan syukuran atas kemurahan Allah yang memuluskan cita-cita Zahra dengan mengadakan pengajian dan mengundang buka puasa bersama anak-anak yatim piatu di rumah mereka yang sederhana.
Namun Zahra tak menyangka hidupnya akan mengalami musibah berat. Saat Zahra diantar ayahnya ke kampus untuk melunasi pembayaran biaya kuliah. Saat mereka pulang. mereka mengalami kecelakaan. Motor yang mereka kendarai ditabrak mobil yang dikemudikan anak muda mabuk, bernama Haris (20 th), yang melarikan diri.
Abdullah dan Zahra dilarikan ke Rumah Sakit. Zahra harus menerima kenyataan kaki kirinya patah. Sementara Abdullah mengalami koma.
Haris, mahasiswa anak orang kaya. Selama ini kehidupanya jauh dari agama, malah condong ke arah kemaksiatan, seperti mabuk dan pesta. Peristiwa tabrak lari itu, ternyata amat menghantui Haris. Ia selalu didera mimpi-mimpi seram. Pemuda itu selalu dikejar-kejar rasa bersalah dan berdosa. Mau menyerahkan diri ke polisi, takut di bui.
Setelah 7 hari koma M. Abdullah meninggal dunia. Duka pun bertambah dalam keluarga Zahra. Meski belum sembuh dan harus di atas kursi roda, Zahra bersikeras mengikuti pemakaman jenazah ayah tercintanya. Berkat kesetian Siti, sebagai sahabat, aktifitas Zahra banyak terbantu.
Tidak kuasa menanggung siksaan batin, Haris mencari tahu siapa korban tabrak larinya. Mengetahui korbannya Pak Abdulah meninggal dunia dan putrinya yang muslimah cacat, Haris makin merasa bersalah saja.
Atas saran kedua orangtua Haris, mereka sepakat bertanggung jawab atas biaya perawatan rumah sakit dan biaya duka, Saat jenazah Abdullah akan diberangkatkan dari rumah duka, Haris datang melayat dan menaruh sejumlah uang ke tempat sumbangan.
Usai acara pemakaman, Bu Diah dan Zahra dan Lukman, paman Zahra terkejut menemukan uang sumbangan dalam jumlah besar. Mereka bertanya-tanya, dermawan mana yang memberikan sumbangan begitu besar jumlahnya untuk almarhum?
Musibah yang menimpa Zahra, seakan-akan memupuskan harapan Zahra untuk kuliah. Merasa cacat, Zahra tak sanggup bila harus mengikuti kegiatan rutinitas di kampus yang akan dimulai 3 minggu lagi, setelah lebaran.
Dikala Zahra dalam kesedihan, Siti menghibur dan mengingatkan sahabarnya, agar tetap tegar menerima kenyataan pahit ini. Zahra harus percaya Allah tak akan menguji hamba-Nya, diluar kemampuan hamba-Nya itu sendiri. Zahra pun yakin akan hal itu, namun sebagai seorang gadis cacat itu amat menghantui.
Sementara itu, di lingkungan teman-teman gaulnya, Haris dianggap jadi orang aneh yang sikapnya berubah pendiam. Haris mulai malas ngongkrong dengan kawan-kawan dugemnya. Dengan Siska pacarnya pun dia putus, setelah mereka terlibat pertengkaran sengit.
Saat di kampus, tak sengaja Haris melihat Zahra yang masih dikursi roda bersama Siti ke kampus. Di situ Haris baru jelas menyaksikan sosok dan wajah Zahra yang ditutipi jilbab begitu bersahaja. Aura yang terpancar dari wajah Zahra seakan-akan menarik-narik perasaan hati Haris. Namun ada rasa penyesalan teramat dalam menghantui kecacatan Zahra akibat perbuatannya.
Entah pikiran apa, yang membuat Haris ingin kenal Zahra lebih dekat lagi. Mengetahui Zahra masih berobat jalan ke rumah sakit, muncul ide mendekati gadis itu. Tanpa kehilangan akal, Haris menyamar sebagai pemuda alim. Mengenakan peci dan berbaju koko Penampilan Haris melebihi ustadz kondang. Ia pun terpaksa ikut-ikutan mengerjakan sholat.
Haris mengenalkan diri terlebih dahulu kepada bu Diah, yang mengantar Zahra ke Rs dengan berpura-pura sebagai pasien pula. Tiga hari kemudian, Haris menemui bu Diah dan Zahra lagi di RS untuk terapi lagi. Sewaktu mereka pulang, Haris menawarkan tumpangan mobil dengan menggunakan mobil baru. Bu Diah sulit menolak kebaikan Haris yang dimatanya amat tulus, walau Zahra kurang setuju.
Haris yang semula menyamar sebagai pemuda alim, lambat laut mulai menerima agama. Haris mulai aktif di masjid kampusnya dan mendalami tentang agama lagi yang telah lama ditinggalkan. Haris mulai menemukan jalan Allahi. Orangtua Haris sangat bersyukur atas perubahan diri anak mereka.
Zahra termasuk gadis pemalu yang belum pernah jatuh cinta dengan pria. Siti yang mampu menangkap getar-getar hati sahabatnya terhadap Haris, ia pun mencomblangi dengan Haris.
Meski Zahra tidak resmi menerima Haris, namun gadis itu mulai membuka hatinya. Sikap Haris yang selalu mengingatkan Zahra untuk kuliah, kembali memompa semangat kuliahnya.
Zahra berterima kasih sekali atas dorongan moril Haris yang telah menolong dan membantunya. Gadis itu pada akhirnya bisa menerima cinta Haris. Mereka resmi pacaran di bulan Suci Ramahdan yang ponuh berkah.
Ada ganjalan yang tidak bisa diingkari Haris tentang peristiwa tabrak lari. Dengan segala resiko Haris membuka diri, mengatakan bahwa dia adalah orang yang telah membuat ayah Zahra meninggal dunia dan membuat kaki Zahara pincang. Zahra yang tidak menyangka amat terpukul. Gadis itu menjauhi Haris dan berharap hubungan mereka berakhir.
Haris cukup tegar menerima kenyataan sikap Zahra. Ia merasa puas sudah bersikap jujur dengan keluarga Zahra. Dia pun siap menyerahkan diri ke polisi seandainya keluarga Zahra menuntut pertanggung jawabannya.
Paman Zahra, Lukman, yang bersikap arif, mengangap upaya Haris selama ini dengan membantu keponakan dianggap sebagai hukuman atas perbuatan Haris yang tidak sengaja itu. Mereka mengiklaskan kepergian almarhum M. Abdullah yang dianggap sebagai takdir Allah.
Keluarga Haris makin menghormati keluarga Zahra yang amat bijaksana itu. Papa dan Mama Haris, amat setuju jika seandainya Zahra ditunangan dengan Haris.
Namun Zahra belum mampu menepis ganjalan hatinya tentang kehilangan ayahdanya yang amat disayangi. Haris menunggu sikap Zahra berubah dengan kesabaran. Pemuda itu berdoa di antara sholatnya agar Allah membuka hati Zahra kembali. Ia pun, berharap agar Zahra menjadi jodohnya agar bisa sama-sama membangun sebuah rumahtangga sakinah.
Puji syukur pada Allah SWT, penantian Haris yang penuh kesabaran tidak sia-sia. Perasaan Zahra melunak, Gadis itu tidak bisa diingkari cintanya kepada Haris.
Atas kesepakatan kedua belah pikah keluarga, Haris dan Zahra terikat dalam pertunangan. Mereka sepakat menyelesaikan kuliahnya masing-masing sebelum membangun mahligai rumahtangga.(nadas-production/indosiar.com/4nd)
Pernah ditayangkan pada : 8 Desember 2008 pukul 22.00 WIB