
Kecemasannya semakin menjadi ketika Yuri memacu mobilnya ke sebuah lapangan bisbol dan meminta Rieru untuk tinggal didalam mobil. Baru saja melangkah keluar untuk menyusul, tiba-tiba terjadi ledakan keras.
Rupanya Yuri berusaha mencegah bom yang ditanam oleh Naomi namun terlambat. Berhasil menyelamatkan seorang bocah dan ayahnya yang terluka, Rieru dibawa ke kantor polisi. Saat tahu gadis itu berada di lokasi, Detektif Saeki kehilangan kesabaran dan membentak Rieru sambil mengatakan bahwa seandainya ia diberitahu soal identitas Yuri, semua itu tidak akan terjadi.
Lewat penuturan Taisa, terungkap bahwa aksi teror itu adalah untuk mengetahui cara kerja polisi Jepang. Di rumahnya, Rieru yang tidak tenang berusaha mendatangi rumah Naomi yang diduga memiliki kaitan dengan Yuri, namun saat hendak menekan bel ia dihalangi oleh Detektif Saeki dan anak buahnya yang kemudian menerobos masuk.
Sayang, saat sampai didalam ruangan sudah dalam keadaan kosong. Di tempat persembunyiannya yang baru, Naomi mengatakan kalau dirinya rela mati ditangan Yuri karena tahu pria itu membencinya karena berusaha membunuh Rieru. Tapi ia juga menambahkan bila memang harus mati, Rieru yang dibencinya juga harus mengalami nasib yang sama.
Belum selesai dengan masalah Detektif Saeki yang terus merongrongnya untuk mengorek keterangan, masalah Rieru bertambah ketika Seiji muncul dan mencoba memerasnya dengan menggunakan bukti pemantik api buatan Yuri.
Di tempat persembunyiannya, Yuri mendapat instruksi baru dari Taisa : ia diminta membunuh salah seorang pemimpin negaranya yang bernama Jenderal Hunarov. Tujuannya satu : demi mempermudah rencana memeras pemerintah Jepang untuk menyerahkan sejumlah uang berjumlah besar yang nantinya akan digunakan sebagai biaya revolusi.
Terus diikuti oleh Detektif Saeki, Rieru mendapat nasehat berharga dari sahabatnya Dokter Shino mengenai hubungannya dengan Yuri. Memutuskan berkunjung ke rumah sakit, gadis itu mendapati dua kabar sekaligus : salah satu korban ledakan telah meninggal, dan Yuri baru saja pergi dari tempat itu.
Melihat Detektif Saeki pergi melapor, Rieru bergegas pergi dan menelepon Yuri untuk bisa bertemu. Tidak ingin ada korban lagi, Gadis itu menyarankan supaya Yuri mau menyerahkan diri ke polisi, namun teringat ucapan Naomi yang akan membunuh Rieru kalau menghalangi jalannya operasi, dengan cepat pria itu menolak.
Mendadak ponsel Rieru berbunyi, di ujung sana Maria memberitahu bahwa sidik jari Yuri ditemukan pada pecahan bom. Tidak percaya dengan ucapan itu, Rieru langsung menanyakan ke Yuri yang tidak membantah dan menyebutkan kalau memang dirinya-lah yang merakit bom itu.
Meski tahu kalau itu jebakan Naomi supaya dirinya tidak bisa berkelit lagi, dengan wajah sedih Yuri mengatakan bahwa hal itu dilakukannya demi menyelamatkan anak-anak kelaparan di negerinya yang miskin. Tidak percaya kalau pria yang dicintainya begitu kejam, Rieru langsung mengambil tas, mencampakkan sarung tangan pemberian Yuri di jok mobil, dan beranjak pergi.(mdL)