
Demi amanat mendiang sang suami, Prabu Wiragading, Pandanwangi merawat dan membesarkan putra tirinya yang juga calon putra mahkota kerajaan Muarabesi dengan penuh cinta dan kasih sayang sebagaimana cinta yang ia berikan pada kedua anak kandungnya sendiri, Ratna Kembang dan Ranggapati. Meski sang putra tiri, Geger Malela, seorang bocah autis.
Cinta dan kasih sayang yang tulus dari seseorang ibu tiri ternyata menuai kecemburuan putra kandungnya sendiri, Ranggapati. Hingga diam-diam, Ranggapati tak jarang menganiaya Geger Malela dengan berbagai cara. Sangat berbeda halnya dengan Ratna Kembang yang justru sangat mengasih Geger Malela.
Waktu terus berjalan... Geger Malela, Ratna Kembang dan Ranggapati pun telah menginjak usia dewasa. Namun kecemburuan sekaligus juga kebencian yang memendam di hati Ranggapati semakin menjadi-jadi. Terlebih ketika ibunya akan menobatkan Geger Malela sebagai putra mahkota.
Saat yang bersamaan, seorang penyihir sakti bernama Sundari muncul untuk membalas dendam masa lalu pada semua keturunan Wiragading, yang dianggap musuh besarnya. Maka bersama-sama Ranggapati, Sundari berusaha menghancurkan Geger Malela. Bahkan demi tahta, Ranggapati tega menghabisi nyawa ibu kandungnya sendiri.
Sundari yang tak pernah tua dan mati, karena jantungnya tersimpan di salah satu Guriang Tujuh, yakni tujuh ekor naga sakti, lantas berniat mengorbankan Ratna Kembang pada Guriang Tujuh di Kawah Jalatunda.
Namun sebelum segala sesuatunya terlambat, Geger Malela muncul untuk menyelamatkan Ratna Kembang, sekaligus juga menghancurkan impian jahat Sundari. Geger Malela lantas menikahi Ratna Kembang dan dinobatkan sebagai raja Muarabesi.(indosiar.com/4nd)