
Idang 'melihat' barang-barang mewah dan golok berlumuran darah di garasinya ketika seseorang memukul tengkuknya sehingga ia pun pingsan.
Ketika ia sadar, ia dapatkan dirinya tergeletak di lantai. Semua orang mengatakan ia terjatuh dari tempat tidur. Mereka juga mengatakan ia bermimpi. Tapi Idang yakin apa yang ia lihat di garasi tadi malam adalah mimpi. Namun apa yang ia hadapi kemudian memaksanya untuk percaya bahwa itu memang mimpi.
Di rumah Adi Lukito terjadi perampokan. Semuanya dibunuh, kecuali para pembantu rumah tangga. Namun ada yang luput, ada yang tidak mati⦠yaitu bocah perempuan berusian 10 tahun. Ia bernama Evi.
Para polisi (yang diwakili oleh Emir dan Amran) menghadapi jalan buntu dalam mengusut kasus itu. Semua arah yang ditempuh berakhir dengan 2 kata yang sama. Jalan buntu. Satu-satunya harapan yang tersisa adalah Evi. Tapi harapan itupun segera hilang ketika diketahui pita suara Evi rusak. Evi tak bisa lagi bicara.
Akhirnya muncullah Idang, orang yang selalu mendapat mimpi tentang Evi. Idang sendiri heran kenapa ia mengalami hal itu. Kejadian yang ia alami itu ia laporkan pada Emir. Emir dan rekan polisi lainnya, maupun keluarga Evi (paman dan bibinya) terperanjat mengetahui sesuatu. Evi dan Idang mampu berkomunikasi secara telepatis!
Jalan buntu mulai terkuak perlahan-lahan. Melalui cara telepatis itulah Emir mengusut kasus pembunuhan keluarga Evi. Evi menjelaskannya pada Idang, dan Idang menterjemahkannya pada Emir. Akhirnya kasus pembunuhan dan perampokan itu terungkap. Mereka tak lain adalah keluarga Idang sendiri.