Bagaimana hukumnya jika suami marah, namun yang menjadi sasaran mertua ? pertanyaan tersebut mengawali perjumpaan Mamah Dedeh dan 2 majelis taklim yang hadir pagi ini (5/01).
Showing 1 to 9 of 9 comments
Page: 1
4-Mar-2010 17:48:14 WIB by keisha curhat dong ma.....
pada bulan haji kemaren mertua saya meminta keanaknya untuk korban karenasianak diluar kota .Alhamdulillah anaknya memberikan uang untuk korban(trnsfer),tapi kenyataannya uang itu tidak dipake untuk korban..gmn hukumnya ma?berdosakah mertua saya?lalu dosa jugakah adik ipar saya yg memberikan uang tsb?
13-Feb-2010 07:02:23 WIB by Hamba Allah Assalamualaikum wr.wb
Curhat dong Ma...
Saya seorang ibu orangtua tunggal setelah bercerai dari suami.Saya ingin mengakikahkan anak laki2 saya dengan 2 (dua) ekor kambing. Pertanyaan saya apakah kambing dipotong dan langsung dibagikan dagingnya saja atau dimasak terlebih dahulu baru dibagikan.Perlukah saya meminta izin kepada mantan suami?Apabila akikah ini sekaligus saya niatkan juga merupakan zakat atas penghasilan yang saya dapatkan apakah boleh ma?
Trm kasih.
Wassalamualaikum wr.wb
NB.Mohon Nama saya dibaca sebagai Hamba Allah Jakarta saja.
12-Feb-2010 09:45:35 WIB by Novia Sby Assalamualaikum wr.wb
curhat dong mah....
begini mah, saya seorang istri yang telah mempunyai seorang putri yg berusia 1th 20hari, saya telah menikah selama 4th. Saya mempunyai ibu mertua yg cerewet tapi dia sayang banget ama saya. Sekarang ini posisi saya tinggal dengan mertua saya. Yang ingin saya tanyakan mah, suami saya termasuk tipe orang yang pendendam kalo saya boleh katakan itu. Suami saya merasa tidak cocok dengan orangtua saya semenjak saya pacaran sampai dengan hari ini, pada saat 1 minggu kelahiran anak saya dia sudah bertengkar dengan ibu saya, sampai berani menunjuk-nunjuk ibu saya. Dan beberapa bulan yang lalu suami saya bertengkar hebat dengan ibu mertua saya , sampai-sampai dia berani mendorong ibu mertua saya seandainya tidak ada ayah mertua saya mungkin dia bisa-bisa memukul ibu mertua saya. semenjak itu kami sering bertengkar , dia dalam posisi belum punya pekerjaan, tapi saya tidak pernah menuntut apa2 pada dia, sampai dengan detik ini dia tidak mau berbicara dengan ibu mertua saya. Dan beberapa minggu ini sepertinya dia mulai berani selingkuh dengan wanita lain, saya tidak tau sendiri dia selingkuh, tapi dari sms yg sering dia lakukan saya tau. Perlu diketahui mah , dia tidak memberi saya nafkah lahir batin kurang lbh 1.5bulan. Apakah salah mah kalo saya mau melayani suami dengan syarat dia mau berbaikan dengan ibu saya dan ibu mertua saya?
dan bagaimana saya seharusnya tindakan yg saya ambil mah, karena terus terang saja, saya ingin di talaq tp masih terbebani anak saya yg masih kecil?
dan bagaimana hukumnya atas perbuatan suami saya?
dan apakah saya salah kalo saya menginginkan suatu saat ada orang yg lebih baik dr suami saya, yg bisa menjadi imam saya dunia akhirat?
terima kasih mah.
Wassalamuaialkum wr.wb
31-Jan-2010 14:36:08 WIB by hany Assalamu’alaikum Wr.wb.
Curhat ya mah…
Saya seorang ibu bekerja dengan 1 anak. Pekerjaan saya membuat saya harus tinggal di kota lain, jauh dari ortu dan suami. Tadinya saya kost sendirian sementara anak saya bersama suami. Hal itu atas permintaan suami karena ada kemungkinan saya di pindah lagi ke kota lain. Selama 3 tahun saya di luar kota, dan saya pulang seminggu sekali. Sampai saya hamil lagi dan akhirnya melahirkan anak kedua. Sayangnya anak saya memiliki kelainan jantung bawaan, yang harus di operasi pada saat usia 9 bulan, dan operasinya gagal, anak saya meninggal 1.5 tahun yang lalu. Mulai anak saya lahir sampai akhirnya dia meninggal, anak kedua saya ini tinggal dengan saya dan pembantu, di kota S. Sementara suami dan anak pertama di kota B. Kami bertemu sekitar sebulan sekali, dan semua baik2 saja sampai akhirnya anak kedua meninggal.
Semua berawal waktu anak saya harus di operasi, suami saya keberatan dengan besarnya biaya, padahal semua biaya akhirnya di tanggung kantor saya. Tapi semua itu seperti merubah segalanya mah... Saya dan suami jadi sering bertengkar tanpa jelas masalahnya. Sampai akhirnya beberapa hari setelah anak saya meninggal, suami saya menuduh saya yang sudah membuat anak saya meninggal. Hati saya sakit skali mah...
Saya yang hamil, melahirkan, menyusui dan mengasuh dia sendirian selama di kota S, hanya di temani pembantu. Saya juga yang mengurus semua keperluan anak saya selama di rumah sakit.
Tidak skali ini dia menuduh saya seperti itu. Dulu waktu eyang putrinya meninggal, dan ibunya (ibu mertua saya) meninggal, dia juga menuduh saya yang menyebabkan mereka meninggal. Padahal eyangnya meninggal karena sakit, seminggu setelah kami menikah. Ibunya meninggal karena radang paru2. Dan gak cuma itu, dia juga menuduh saya mendoakan bapaknya cepat meninggal karena saya ingin harta warisan.
Demi Allah mah...seumur hidup saya, orang tua saya tidak pernah mengajari saya mengharapkan warisan, dan saya sama sekali tidak tertarik. Saya lebih suka bekerja dan membeli semua dengan hasil jerih payah saya. Saya benar2 merasa sakit hati dan terhina. Apa salah saya sampai dia menuduh saya seperti itu. Apalagi setelah itu suami juga menjelek2kan bapak dan ibu saya dengan mengatakan kalo keluarga saya keluarga gak bener yang menghalalkan segala cara. Keluarga saya keluarga baik-baik mah, orang tua saya sangat di hormati di kampung saya. Ayah saya pekerja keras, belliau melakukan pekerjaan apa saja asal halal agar semua anaknya bisa jadi sarjana dan berhasil. Ibu saya orang yang sangat religius dan sangat menjunjung tinggi nilai agama.
Saya benar2 sangat sakit hati sama suami.
Selama ini saya menyembunyikan semua masalah saya dari keluarga mah, sampai akhirnya anak pertama saya ngadu ke bapak ibu saya tentang pertengkaran saya dan suami
Ibu saya menangis, bapak saya marah besar, mereka tidak rela saya tetap mempertahankan pernikahan saya. Semua kakak saya di ajak berdiskusi dan memutuskan saya harus bercerai. Saya tidak mau mah, saya gak ingin anak saya jadi korban, saya berusaha sabar.
Tapi ternyata suami saya tidak pernah sadar dia menyakiti saya dan keluarga. Dia malah berulah lagi. Dia mengirim surat ke atasan saya di kantor, dan mengadu, katanya saya berubah sikap dan kasar pada anak saya. Dia bilang juga kalo saya suka berbohong. Meskipun kemudian saya bisa menjelaskan smua masalah itu dengan atasan, saya tetap gak bisa ngerti kenapa suami harus melibatkan orang lain. Memang setiap kami bicara, akhirnya selalu bertengkar dan masalah gak pernah selesai. Akhirnya saya meminta bantuan pak dhe dari suami untuk menengahi kami. Di depan pak dhe, suami minta maaf dan berjanji akan berubah. Tapi dia bilang semua itu karena Pak Dhe, bukan karena saya atau anak saya mah...
Dan ternyata dia juga selalu menjelekkan saya di depan anak pertama saya. Dia bilang pada anak saya, kalo saya tidak pernah sayang sama dia, itu sebabnya saya meninggalkan dia untuk bekerja di kota lain.
Padahal dulu saya bekerja atas ijin suami mah...
Dia juga bilang kalo saya bersenang-senang di kota S, sementara dia kerja keras di kota B. Saya sama sekali gak mengerti maksud dia.
Dulu juga, ketika saya bekerja di kota B, kantor saya bermasalah dan saya harus di panggil polisi karena kesalahan atasan saya. Suami bukannya mendukung saya karena saya tidak bersalah, dia malah bilang kalo saya sudah membuat malu keluarga besarnya.
Akhirnya 1.5 tahun lalu, saya bawa anak saya ke kota S, dan saya berusaha membuktikan dan meyakinkan anak saya, kalo saya sayang sama dia. Dan Alhamdulillah, usaha saya tidak sia2, anak saya dekat sekali dengan saya, meskipun sifatnya jadi sangat sensitif dan temperamen.
Sampai sekarang suami saya tidak juga berubah mah, sudah 2 tahun rumah tangga kami tidak jelas arahnya. Bapak dan ibu saya juga masih belum bisa memaafkan suami, jujur saja, saya juga belum bisa memaafkan dia. Setiap kali bapak ibu saya berkunjung, dan suami kebetulan juga sedang di rumah (di kota S), masing2 diam. Dan masing2 selalu saling mengatakan hal buruk tentang lainnya kepada saya. Saya gak kuat mah...
Oiya mah, sejak saya bekerja di perusahaan yang sekarang, suami tidak pernah lagi menafkahi saya secara lahiriah. Dulu, sebelum saya melahirkan anak kedua, memang saya yang meminta dia untuk tidak memikirkan biaya hidup saya di luar kota, saya ingin dia lebih fokus mengurusi dan membiayai anak pertama. Tapi setelah anak2 bersama saya, saya merasa berat harus menanggung biaya hidup kami. Tapi suami sama sekali tidak mau membantu dengan alasan dia gak punya penghasilan. Padahal dia punya toko yang lumayan besar, dan saya tau berapa pendapatan dia. Sampai sekarang dia gak pernah menafkahi saya, meskipun saya sering bilang saya kewalahan memenuhi biaya hidup saya dan anak saya. Suami selalu bilang kalo saya gak kuat, saya harus membiarkan dia membawa anak saya kembali ke kota B bersama dia, tapi saya gak mau mah... Saya gak mau lagi jauh dari anak saya.
Info lagi mah, dulu memang saya menikah dengan suami karena saya hamil duluan. Saya menyesal mah...saya sudah sangat mengecewakan orang tua. Pada waktu itu bapak saya marah besar dan sempat berkata kasar kepada suami dan keluarganya yang datang untuk bertanggung jawab. Tapi saya gak menyalahkan bapak, karena menurut saya itu wajar karena bapak emosi, dan semua orang cenderung seperti itu. Tapi sepertinya suami sampai sekarang tidak terima dan sakit hati dengan ucapan bapak.
Mah, apa yang harus saya lakukan? Di satu sisi, saya ingin mempertahankan rumah tangga saya demi anak saya. Tapi di sisi lain saya membenci suami saya.
Saya ingin bersabar menghadapi suami saya, tapi keluarga saya sudah tidak bisa lagi memaafkan suami. Sampai2 bapak saya sering bilang ke saya kalo saya harus ngajarin suami bersopan santun pada orang lain.
Di satu sisi, saya ingin anak saya bahagia, dan tidak di korbankan dengan semua ini, tapi di sisi lain saya ingin bahagia dan bosan selalu di salahkan suami.
Sudah 3 bulan ini, saya tidak mau melayani suami mah...saya gak bisa, saya selalu merasa jijik di dekati suami. Sebelum2nya, meskipun hati saya sakit, saya tetap berusaha melayani, tapi sekarang saya sudah gak bisa mah... Dosakah saya mah?
Apa saya bercerai saja dengan suami seperti kehendak keluarga saya?
Apa saya dosa memiliki keinginan bercerai untuk kebahagiaan saya mah?
Maaf mah, jika terlalu panjang, saya merasa hidup saya penuh dengan masalah. Tolong bantu saya mah...apa yang harus saya lakukan? Terima kasih sebelumnya.
Wassalamu’alaikum Wr. Wb...
Hany – di kota S
Nb. Bisakah saya dapat copy jawaban mamah melalui email?
Kalo bisa, email saya di ian_nissa@yahoo.com
Trimakasih mah…
29-Jan-2010 09:26:56 WIB by Hamba Allah Ass..
Curhat donk mah..
Sya wanita menikah,sblm menikah kmi sdh mlakukan hub suami istri,itu kan dosa besar..sya mrasa sngat bdosa skali..apa yg hrus sya lakukan untuk menebus dosa?trimakasih mamah..
Wassalam..
28-Jan-2010 02:30:00 WIB by jeky Asalamualaikum wr.wb
curhat dong mah.....
Saya seorang pemuda,umur 23ke 24 mah
dlu saya sangat membenci keluarga saya mah..,karna saya anak
buangan.namun seiring waktu akhirnya saya sedikit2 dapat menerima mereka,apakah dosa saya dapat diampuni alloh,jika untuk seterusnya saya dapat menyayangi mereka...saat saya membenci mereka umur saya baru 7 th sampai saya sLTP mah..saat itu pula saya sering kabur dari rumah...sekarang saya kerja Di Jakarta jauh dari keluarga saya...apa yang harus saya lakukan mah,untuk menyenangkan mereka...
saya tunggu jawabanya pagi ini mah,makasih sebelumnya..
Assalamualaikum Wr WB
25-Jan-2010 10:34:38 WIB by santi Bdg Assalamualaiku wr.wb
curhat dong mah.....
begini mah saya sudah berkeluarga dan punya 1 orang anak laki2 dan saya pun bekerja di sebuah perusahaan swasta. saya sudah 2x ngontrak dan 2x pindah kerumah ortu dikarenakan tidak diperbolehkan oleh ortu dikarenakan dirumah kesepian tidak ada teman. padahal saya punya 1 ka2k laki2 dan 1 adik perempuan berumur 18thn tapi sayapun ntah kenapa tiap kali saya ngontrak ortu slalu menyuruh saya pindah kerumahnya tapi klo saya tidak ngontrak slalu ada masalah yang bikin saya gak enak sama suami saya dengan posisi banyak masalah dirumah. dan sewaktu waktu saya mengalah dan akhirnya saya pindah kerumah ortu karena dengan perasaan sayang sama ortu, setelah saya pindah ortuku slalu memarahiku yg tidak jelas atw contoh menurut saya wajar jika saya menyuruh adik perempuanku untuk cuci piring karena tiap hari dia gak pernah mengerjakan pekerjaan rumah untuk mandi aja slalu ibu saya yang menyiapkan tetapi jika aku menyuruh adikku ibuku slalu memarahiku aku bingung mesti bagaimana, trus kepada tetangga dan saudara ortuku selalu bilang dan bercerita tentang kejelakanku padahal semua yang diomngkan oleh ortu tidak semua benar aku bingung dengan posisi saya menumpang di rumah ortu dan posisi saya menitipkan anak kepada ortu dikarenakan saya bekerja dan suamipun kerja
pertanyaan saya : bagaimana cara mengatasi permasalahan tersebut ? jika saya mesti mengontrak lg sayapun baru pindah ke rumah ortu saya baru 2 minggu tapi sudah gak enak padahal slam ini saya sudah cukup sabar.
terimakasih
Assalamualaiku wr.wb
18-Jan-2010 07:02:29 WIB by Anita sby Assalamualaiku wr.wb
Curhat dong ma...
Saya seorang istri saya berkerja suami saya juga berkerja
kami masih numpang di rumah ortu saya tiap bulan gaji suami cuma di pakai buat beli susu anak kami sedang kan saya yg selalu bagi gaji saya buat ibu saya sedang kan suami jarang sekali ngasi uang belanja
Yg saya tanya khan apa saya berhak dgn gaji suami saya....? Trm ksh
Wassalamualaikum wr wb
15-Jan-2010 22:45:12 WIB by faiz gw baru tau internet tolong ajarin